Ilmu Ekonomi Mazhab Austria

DALAM 10 PROPOSISI

oleh Peter J. Boettke
(dikutip dari EconLib)

image

Ilmu Ekonomi

Proposisi 1: Hanya individu yang membuat pilihan.

Manusia, dengan maksud dan rencana, adalah awal mula dari semua analisa ekonomi. Hanya individu yang membuat pilihan; entitas kolektif tidak memilih. Tugas utama analisa ekonomi adalah membuat fenomena ekonomi bisa dipikirkan dengan mendasarkannya pada maksud dan rencana individu; tugas kedua analisa ekonomi adalah melacak konsekuensi-konsekuensi yang tidak dimaksudkan dari pilihan individu.

Proposisi 2: Telaah atas tatanan pasar secara mendasar adalah telaah atas perilaku pertukaran dan telaah atas institusi-institusi di mana pertukaran dilakukan.

Sistem harga dan ekonomi pasar paling baik dipahami sebagai “katalaksi,” jadinya ilmu yang mempelajari tatanan pasar ada di bawah domain “katalaktik.” Istilah ini diambil dari makna asli kata tersebut dalam bahasa Yunani katallaxy – melakukan pertukaran dan berteman dengan orang asing lewat pertukaran. Katalaktik memberi perhatian analitis atas hubungan pertukaran yang muncul di pasar, tawar menawar yang mencirikan proses pertukaran, dan institusi-institusi di mana pertukaran terjadi.

(Catatan: Hayek mendefinisikan katalaksi sebagai “tatanan yang diciptakan oleh saling penyesuaian dari berbagai macam ekonomi individu di pasar.” – Law, Legislation, and Liberty, Vol. 2, hal. 108–9)

Proposisi 3: “Fakta” bagi ilmu-ilmu sosial adalah apa yang dipercaya dan dipikirkan orang.

Tidak seperti dalam ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu manusia dimulai dengan maksud dan rencana para individu. Manakala pembersihan dari maksud dan rencana dalam ilmu alam membawa pada kemajuan dengan menanggulangi problem antropomorfisme, di dalam ilmu-ilmu manusia, eliminasi atas maksud dan rencana menghasilkan pembersihan ilmu manusia dari tindakan manusia yang menjadi subyek bahasannya. Dalam ilmu-ilmu manusia, “fakta” dunia ini adalah apa yang dipikirkan dan dipercaya oleh para pelakunya.

Artinya individu berurusan dengan hal-hal, praktek-praktek, tempat-tempat, dan orang-orang yang menentukan bagaimana mereka akan mengorientasikan diri dalam membuat keputusan. Tujuan ilmu-ilmu tindakan manusia adalah kejelasan, bukan ramalan. Bahwa ilmu-ilmu manusia bisa mencapai tujuan ini karena kita adalah apa yang kita pelajari, atau karena kita punya pengetahuan dari dalam, sedangkan ilmu-ilmu alam tidak bisa mencapai tujuan kejelasan karena mengandalkan pengetahuan dari luar. Kita bisa memahami maksud dan rencana pelaku lain karena kita sendiri adalah pelaku.

Eksperimen pikiran klasik dilakukan untuk menyingkap perbedaan antara ilmu tindakan manusia dengan ilmu alam adalah pengamatan Martian atas “data” di Grand Central Station di New York. Sang Martian bisa mengamati bahwa saat jarum kecil di jam dinding menunjuk pada angka delapan, ada gerakan ramai terburu-buru begitu setiap orang meninggalkan kotak tersebut, dan bahwa saat jarum kecil menunjuk angka lima, ada gerakan ramai terburu-buru begitu setiap orang kembali memasuki kotak dan pergi. Sang Martian bahkan bisa membuat ramalan mengenai jarum jam dan gerakan orang-orang serta kotaknya. Tapi kecuali sang Martian bisa memahami maksud dan rencana (pulang balik dari dan ke tempat kerja), maka pemahaman “ilmiahnya” mengenai data dari Grand Central Station akan sangat terbatas. Ilmu tindakan manusia berbeda dari ilmu alam, dan kita hanya akan memiskinkan ilmu-ilmu manusia jika kita mencoba untuk memaksanya masuk ke dalam cetakan filosofis/ilmiah dari ilmu-ilmu alam.

Mikroekonomi

Proposisi 4: Utilitas dan biaya bersifat subyektif.

Semua fenomena ekonomi disaring lewat pikiran manusia. Sejak tahun 1870an, para ekonom telah bersepakat bahwa nilai bersifat subyektif tapi, setelah Alfred Marshall, banyak yang berargumentasi bahwa sisi biaya dari persamaan itu ditentukan oleh kondisi-kondisi obyektif. Marshall menekankan bahwa seperti kedua sisi gunting yang memotong sehelai kertas, begitu juga nilai subyektif dan biaya obyektif menentukan harga. Tapi Marshall gagal mengapresiasi bahwa biaya juga bersifat subyektif karena harga itu sendiri ditentukan oleh nilai penggunaan alternatif dari sumber daya langka. Kedua sisi gunting memang memotong kertas, tapi sisi suplai ditentukan juga oleh penilaian subyektif individu.

Dalam menentukan jenis tindakan, kita harus memilih; yaitu, kita mesti menempuh satu jalan dan bukan yang lain. Fokus pada alternatif dalam memilih membawa pada salah satu konsep mengenai cara pikir ekonomi: biaya oportunitas. Biaya dari setiap tindakan adalah nilai dari alternatif yang dianggap paling tinggi yang hilang saat memilih tindakan itu. Karena tindakan yang hilang itu, secara definitif tidak pernah diambil, saat kita membuat keputusan, kita mempertimbangkan keuntungan yang diharapkan dari suatu tindakan dengan keuntungan yang diharapkan dari tindakan-tindakan alternatif.

Proposisi 5: Sistem harga diekonomikan menurut informasi yang perlu diproses orang-orang dalam membuat keputusan.

Harga meringkaskan syarat-syarat pertukaran di pasar. Sistem harga memberi sinyal kepada para pelaku pasar mengenai informasi yang relevan, menolong mereka menyadari hasil bersama dari pertukaran. Dalam contoh terkenal Hayek, saat orang-orang menyadari bahwa harga timah naik, mereka tidak perlu tahu apakah penyebabnya adalah peningkatan dalam permintaan akan timah ataukah penurunan dalam penawaran. Akan tetapi, peningkatan harga timah membuat mereka mengekonomikan penggunaannya. Harga pasar berubah dengan cepat saat kondisi-kondisi mendasar berubah, yang akan membuat orang-orang menyesuaikan diri dengan cepat.

Proposisi 6: Kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi adalah syarat penting bagi kalkulasi ekonomi yang rasional.

Para ekonom dan pemikir sosial sudah lama menyadari bahwa kepemilikan pribadi mendatangkan insentif yang kuat bagi alokasi yang efisien atas sumber daya langka. Tapi mereka yang bersimpati pada sosialisme percaya bahwa sosialisme bisa mentransendensi problem insentif ini dengan mengubah sifat manusia. Ludwig von Mises menunjukkan bahwa sekalipun asumsi perubahan dalam sifat manusia memang terjadi, sosialisme akan tetap gagal karena ketidakmampuan para perencana ekonomi untuk menghitung secara rasional penggunaan alternatif dari sumber daya. Tanpa kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi, kata Mises, tidak akan ada pasar bagi alat-alat produksi, dan karenanya tidak akan ada harga uang bagi alat-alat produksi. Dan tanpa harga uang yang mencerminkan kelangkaan relatif alat-alat produksi, para perencana ekonomi tidak akan bisa menghitung secara rasional penggunaan alternatif dari alat-alat produksi.

Proposisi 7: Pasar kompetitif adalah sebuah proses penemuan entrepreneurial.

Banyak ekonom yang melihat kompetisi sebagai sebuah keadaan. Tapi istilah “kompetisi” melibatkan aktivitas. Jika kompetisi adalah suatu keadaan, seorang entrepreneur tidak akan berperan apa-apa. Tapi karena kompetisi adalah aktivitas, sang entrepreneur memiliki peran besar sebagai agen perubahan yang melecut dan mendorong pasar ke arah baru.

Sang entrepreneur adalah peringatan atas berbagai kesempatan yang tidak disadari bagi hasil bersama. Dengan mengenali kesempatan, sang entrepreneur menghasilkan laba. Saling belajar dari penemuan hasil-hasil pertukaran itu akan menggerakkan sistem pasar ke arah alokasi sumber daya yang lebih efisien. Penemuan entrepreneurial memastikan bahwa gerakan pasar bebas mengarah pada penggunaan sumber daya yang paling efisien. Sebagai tambahan, godaan laba akan terus menerus melecut para entrepreneur untuk membuat inovasi yang akan meningkatkan kapasitas produktif. Bagi entrepreneur yang menyadari kesempatan itu, ketidaksempurnaan hari ini menggambarkan laba hari esok.1 Sistem harga dan ekonomi pasar adalah alat belajar yang menuntun setiap individu untuk menemukan hasil bersama dan menggunakan sumber daya langka secara efisien.

Makroekonomi

Proposisi 8: Uang itu tidak netral.

Uang didefinisikan sebagai medium pertukaran yang telah diterima secara umum. Jika kebijakan pemerintah mendistorsi unit moneter tersebut, pertukaran juga akan terdistorsi. Tujuan dari kebijakan moneter seharusnya adalah meminimalisasi distorsi-distorsi ini. Setiap peningkatan dalam suplai uang yang tidak diimbangi oleh peningkatan dalam permintaan atas uang akan membawa pada peningkatan dalam harga. Tapi harga tidak akan menyesuaikan diri dengan cepat dalam keseluruhan ekonomi. Beberapa harga menyesuaikan diri lebih cepat dari yang lain, yang berarti bahwa harga relatif berubah. Setiap perubahan ini menggunakan pengaruhnya pada pola pertukaran dan produksi. Karena itu, uang, berdasarkan sifatnya, tidak bisa netral.

Pentingnya proposisi ini tampak dalam pembahasan mengenai biaya inflasi. Teori kuantitas uang benar ketika menyatakan bahwa mencetak uang tidak akan meningkatkan kekayaan. Jadi, jika pemerintah menggandakan suplai uang, kemampuan nyata para pemilik uang untuk membeli barang-barang akan terhalang dengan menggandanya harga. Tapi sementara teori kuantitas uang mewakili kemajuan penting dalam pemikiran ekonomi, penafsiran mekanis atas teori kuantitas meremehkan biaya kebijakan inflasioner. Jika harga hanya sekedar mengganda saat pemerintah menggandakan suplai uang, maka para pelaku ekonomi akan mengantisipasi penyesuaian harga ini dengan mengikuti dari dekat gambaran suplai uang dan akan menyesuaikan perilaku mereka dengan itu. Maka biaya inflasi akan menjadi minimal.

Tapi secara sosial, inflasi merusak pada beberapa tingkatan. Pertama, bahkan inflasi yang bisa diantisipasi akan melanggar kepercayaan mendasar antara pemerintah dengan warganya karena pemerintah telah menggunakan inflasi untuk menyita kekayaan orang-orang. Kedua, inflasi yang tidak bisa diantisipasi bersifat redistributif karena yang berutang mengambil keuntungan atas biaya yang memberi utang. Ketiga, karena orang-orang tidak bisa mengantisipasi inflasi dengan sempurna dan karena uang telah ditambahkan entah di mana dalam sistem tersebut – katakanlah, lewat pembelian bond oleh pemerintah – beberapa harga (harga bond, misalnya) menyesuaikan diri sebelum harga-harga lainnya, yang berarti bahwa inflasi mendistorsi pola pertukaran dan produksi.

Karena uang adalah kaitan bagi hampir semua transaksi dalam ekonomi modern, distorsi moneter akan berdampak pada semua transaksi itu. Tujuan dari kebijakan moneter, karenanya, haruslah untuk meminimalkan berbagai distorsi moneter ini, justru karena uang tidak pernah bersifat netral.2

Proposisi 9: Struktur modal terdiri dari barang-barang heterogen yang memiliki beragam kegunaan spesifik yang harus disesuaikan.

Saat ini, orang-orang di Detroit, Stuttgart, dan Tokyo merancang mobil yang tidak akan dibeli selama satu dekade. Bagaimana mereka tahu cara mengalokasikan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan itu? Produksi selalu untuk permintaan masa depan yang tidak pasti, dan proses produksi membutuhkan tahapan investasi yang berbeda-beda meliputi dari yang paling jauh (penambangan biji besi) hingga yang paling langsung (dealer mobil). Nilai dari semua produser barang pada setiap tahap produksi diambil dari nilai yang diberikan konsumen pada produk yang dihasilkan. Rencana produksi membariskan beragam barang ke dalam struktur modal yang memproduksi barang akhir dalam cara yang, secara ideal, paling efisien. Jika barang-barang modal bersifat homogen, mereka bisa digunakan dalam memproduksi semua barang akhir yang diinginkan konsumen. Jika terjadi kesalahan, sumber daya akan dialokasi kembali dengan cepat, dan dengan biaya minimal, dengan menghasilkan produk akhir yang lebih diinginkan. Tapi barang-barang modal bersifat heterogen dan multispesifik; pabrik mobil bisa membuat mobil tapi tidak bisa membuat chip komputer. Kesejajaran yang rumit dari modal untuk memproduksi bermacam ragam barang konsumsi diatur oleh sinyal harga dan kalkulasi ekonomi yang berhati-hati dari para investor. Jika sistem harga terdistorsi, para investor akan membuat kesalahan dalam membariskan barang-barang modal mereka. Sekali kekeliruan itu tersingkap, para pelaku ekonomi akan mengganti investasi mereka, tapi pada saat itu sumber daya sudah terlanjur hilang.3

Proposisi 10: Institusi-institusi sosial seringkali adalah hasil dari tindakan manusia, tapi bukan rancangan manusia.

Banyak dari institusi-institusi dan praktek-praktek yang paling penting bukan merupakan hasil rancangan langsung tapi lebih merupakan produk sampingan dari banyak tindakan yang diambil untuk mencapai berbagai tujuan. Seorang pelajar di Midwest pada bulan Januari mencoba untuk masuk kelas lebih pagi sambil menghindari dingin dengan memotong alun-alun bukannya mengambil jalan berputar. Memotong alun-alun di tengah salju akan meninggalkan jejak kaki; begitu para siswa lainnya mengikuti jalur ini, mereka membuat jalur tersebut menjadi lebih besar. Sekalipun tujuan mereka hanya untuk tiba di kelas lebih awal dan menghindari udara dingin, dalam proses itu mereka telah menciptakan sebuah jalur di atas salju yang benar-benar bisa membantu para siswa yang datang kemudian untuk mencapai tujuan ini secara lebih mudah. Kisah “jalur di atas salju” ini adalah contoh sederhana dari “produk tindakan manusia, tapi bukan rancangan manusia” (Hayek 1948, p. 7).

Ekonomi pasar dan sistem harganya adalah contoh dari proses yang sama. Orang tidak bermaksud untuk menciptakan susunan kompleks pertukaran dan sinyal harga yang mendasari ekonomi pasar. Niat mereka hanya sekedar memperbaiki hidup mereka sendiri, tetapi perilaku mereka menghasilkan sistem pasar. Uang, hukum, bahasa, sains, dan seterusnya adalah semua fenomena sosial yang bisa dilacak asalnya bukan pada rancangan manusia tapi pada upaya mereka untuk mencapai kebaikan mereka sendiri, dan dalam proses itu menciptakan hasil yang menguntungkan masyarakat.4

Implikasi dari sepuluh proposisi ini sangat radikal. Jika semuanya benar, teori ekonomi akan didasarkan pada logika verbal dan karya empiris yang difokuskan pada narasi historis. Dengan memperhatikan kebijakan publik, akan muncul keraguan hebat terhadap kemampuan para pejabat pemerintah untuk campur tangan secara optimal di dalam sistem ekonomi, belum lagi menyangkut ekonomi yang diatur secara rasional.

Barangkali para ekonom harus mengadopsi kredo para dokter: “Pertama jangan melukai.” Ekonomi pasar berkembang dari kecenderungan alami orang-orang untuk memperbaiki situasi mereka dan, dengan begitu, menemukan pertukaran yang saling menguntungkan yang akan memenuhi tujuan tersebut. Adam Smith yang pertama mensistematisasi pesan ini dalam The Wealth of Nations. Di abad dua puluh, para ekonom Mazhab Austria adalah kelompok yang paling tidak mengenal kompromi dalam membela pesan ini, bukan karena komitmen ideologis tapi karena logika dari argumen mereka.

Mengenai Penulis

Peter J. Boettke adalah profesor ekonomi di George Mason University, di mana dia juga menjadi wakil direktur pada James M. Buchanan Center for Political Economy dan senior fellow di Mercatus Center. Dia adalah editor dari jurnal Review of Austrian Economics.

Bacaan Tambahan

Bacaan Umum

Boettke, P., ed. The Elgar Companion to Austrian Economics. Brookfield, Vt.: Edward Elgar, 1994.

Dolan, E., ed. The Foundations of Modern Austrian Economics. Mission, Kans.: Sheed and Ward, 1976. Available online at: http://www.econlib.org/library/NPDBooks/Dolan/dlnFMA.html

Bacaan Klasik

Böhm-Bawerk, E. Capital and Interest. 3 vols. 1883. South Holland, Ill.: Libertarian Press, 1956. Available online at: http://www.econlib.org/library/BohmBawerk/bbCI.html

Hayek, F. A. Individualism and Economic Order. Chicago: University of Chicago Press, 1948.

Kirzner, I. Competition and Entrepreneurship. Chicago: University of Chicago Press, 1973.

Menger, C. Principles of Economics. 1871. New York: New York University Press, 1976.

Mises, L. von. Human Action: A Treatise on Economics. New Haven: Yale University Press, 1949. Available online at: http://www.econlib.org/library/Mises/HmA/msHmA.html

O’ Driscoll, G., and M. Rizzo. The Economics of Time and Ignorance. Oxford: Basil Blackwell, 1985.

Rothbard, M. Man, Economy and State. 2 vols. New York: Van Nostrand Press, 1962.

Vaughn, K. Austrian Economics in America. Cambridge: Cambridge University Press, 1994.

Sejarah Mazhab Ekonomi Austria

Boettke, P., and Peter Leeson. “The Austrian School of Economics: 1950–2000.” In Jeff Biddle and Warren Samuels, eds., The Blackwell Companion to the History of Economic Thought. London: Blackwell, 2003.

Hayek, F. A. “Economic Thought VI: The Austrian School.” In International Encyclopedia of the Social Sciences. New York: Macmillan, 1968.

Machlup, F. “Austrian Economics.” In Encyclopedia of Economics. New York: McGraw-Hill, 1982.

Catatan Kaki

1.
Entrepreneurship bisa dicirikan oleh tiga momen berbeda: serendipity (penemuan), pencarian (pertimbangan sadar), meraih kesempatan untuk mendapatkan laba.

2.
Pencarian akan solusi terhadap tujuan elusif ini melahirkan beberapa karya yang paling inovatif dari para ekonom Austria dan membawa pada perkembangan di tahun 1970an dan 1980an dari tulisan mengenai perbankan bebas oleh F. A. Hayek, Lawrence White, George Selgin, Kevin Dowd, Kurt Schuler, dan Steven Horwitz.

3.
Proposisi 8 dan 9 membentuk inti dari teori Austria mengenai siklus bisnis, yang menjelaskan bagaimana ekspansi kredit oleh pemerintah menghasilkan malinvestasi dalam struktur modal selama periode boom yang mesti dikoreksi dalam fase bust. Dalam ilmu ekonomi kontemporer, Roger Garrison adalah pemberi penjelasan utama mengenai teori ini.

4.
Tidak semua tatanan spontan menguntungkan dan, karena itu, proposisi ini tidak boleh dibaca sebagai contoh dari falasi Panglossian. Apakah individu yang mengejar kepentingan diri mereka menghasilkan keuntungan publik tergantung pada syarat-syarat institusional di dalam mana mereka mengejar kepentingan mereka itu. Baik tangan tak nampak dari efisiensi pasar maupun tragedi orang banyak merupakan hasil dari perjuangan individu untuk mengejar kepentingan pribadi mereka; tapi dalam satu latar sosial hal ini menghasilkan keuntungan sosial, sementara dalam latar sosial lain ia biaa menghasilkan kerugian. Ilmu ekonomi institusional baru memfokus ulang perhatian profesional mereka pada sepeka apa hasil-hasil sosial itu pada latar institusional dalam mana individu saling berinteraksi. Bagaimanapun juga, penting untuk menyadari bahwa para ekonom politik klasik dan para ekonom neoklasik awal semuanya mengakui titik acuan dari para ekonom institusional baru, dan bahwa hanya kepuasan tengah abad kedua puluh terhadap pembuktian formal atas keseimbangan kompetitif umum, pada satu sisi, dan keasyikan Keynesian terhadap variabel-variabel agregat, di sisi lainnya, yang cenderung mengaburkan prakondisi institusional yang dibutuhkan bagi kerjasama sosial.

Diterjemahkan oleh amato dari
http://www.propertarianism.com/en_US/ideas/what-is-austrian-economics/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s