Sistem Laba/Rugi

image

Ekonomi pasar bebas adalah sistem laba dan rugi. Secara khas, laba yang ditekankan tapi harus dipahami bahwa kerugian juga penting bagi sebentuk ekonomi yang efisien. Sifat laba terkadang disalahpahami oleh masyarakat umum. Laba bukan ongkos yang berlebih atau hasil kejahatan yang dilakukan perusahaan. Laba adalah balasan untuk kapitalis-entrepreneur karena menciptakan nilai. Untuk memahami hal ini kita harus pertama-tama memahami sifat dari pertukaran. Saat dua pihak saling bertukar, mereka melakukan itu karena mereka berharap menerima sesuatu yang bernilai lebih tinggi dari yang akan mereka berikan, jika tidak begitu mereka tidak akan membuang-buang waktu untuk melakukan pertukaran. Lalu, apa sifat laba?

Sebagai contoh: Sebuah pabrik mobil mencatat:

$4,000 untuk bahan baku
$6,000 untuk tenaga kerja
$1,000 untuk biaya tambahan
______________________________
$11,000 total biaya

lalu memproduksi sebuah mobil yang dijual seharga $15,000. Satu-satunya cara mobil tersebut akan terjual dengan harga $15,000 adalah jika konsumen mau berpisah dengan uangnya untuk mendapatkan mobil tersebut, dan berdasarkan sifat pertukaran dia akan melakukan itu hanya jika dia menilai lebih mobil tersebut daripada uangnya. Jadi si entrepreneur telah menggunakan $11,000 untuk membiayai sumber daya dan mengubahnya menjadi mobil seharga $15,000, yang dengannya menghasilkan laba sebesar $4,000. Dari mana datangnya laba $4,000 ini? Jawabannya, laba tersebut diciptakan oleh pabrikan. Dialah yang mengadakannya. Ini adalah tindakan kreatif sebagaimana menghasilkan karya seni merupakan tindakan kreatif.

Harga atau nilai bahan baku, tenaga kerja, dan biaya tambahan adalah apa yang akan dijual kepada pembeli yang berminat. Dengan mengubah item-item tersebut menjadi mobil, pabrikan menghasilkan nilai yang lebih besar dari yang dia temukan di dunia. Laba adalah tanda penciptaan nilai; menghasilkan laba layak untuk dipuji dan dihormati karena menguntungkan umat manusia.

Sekarang, ambil contoh untuk kerugian. Apakah kerugian merupakan tindakan yang baik karena tidak menetapkan harga yang terlalu besar? Secara esensial: tidak. Ambil contoh yang sama seperti di atas, dengan biaya masukan sebesar $11,000, bagaimana jika pabrikan memproduksi sebuah mobil yang tidak mau dibeli oleh siapapun lebih dari $11,000? Jika pabrikan tidak bisa menjual mobil tersebut hingga pada harga, katakanlah, $8,000, maka apa itu artinya? Artinya dia telah mengambil sumber daya yang sangat bagus – bahan baku, tenaga kerja, dan biaya lain – dan mengombinasikan mereka dalam cara tertentu yang membuat mereka sekarang berharga $8,000 bagi pembeli. Dia telah merusak nilai di dunia. Tindakan seperti itu layak dikutuk karena memelaratkan kemanusiaan. Jika si pebisnis tidak ada maka dunia akan lebih kaya $3,000 dalam nilai.

Untungnya, dalam pasar bebas kita tidak harus mengandalkan pujian sosial atau kutukan untuk memotivasi produsen dalam memproduksi barang-barang yang diinginkan konsumen. Proses ini akan terjadi secara alami karena laba memungkinkan produsen yang berhasil untuk melanjutkan produksi dan kendali yang lebih luas atas sumber daya, sementara kerugian mencabut orang yang gagal dari kendali atas sumber daya dan kemampuan mereka untuk melanjutkan produksi.

Juga, catat keindahan pasar: Setiap kegagalan dalam melayani konsumen, pemberian harga atau pilihan produksi yang tidak rasional pada derajat yang sama adalah kesempatan untuk mendapatkan laba. Jadi, pasar, meski tidak sempurna, bisa mengoreksi dirinya sendiri. Para pembaharu sebaiknya meralat setiap ketidakmampuan yang mereka deteksi dalam pasar dengan memperoleh laba yang tersedia dari ketidakmampuan itu bukan dengan mengumumkan sistem yang memungkinkan pembaharuan yang bermakna.

Laba adalah sinyal untuk menggunakan sumber daya dalam memproduksi barang-barang yang dinilai tinggi oleh konsumen dan rugi adalah sinyal untuk menghentikan produksi barang-barang bernilai rendah. Kerugian diperlukan untuk membebaskan sumber daya untuk digunakan oleh mereka yang menghasilkan barang-barang bernilai. Karena itu, kita menemukan bahwa kepentingan produsen dan konsumen bersifat harmonis, bukan bertentangan.

Referensi

Friedman, Milton, and Rose Friedman. 1980. Free to Choose. New York: Harcourt Brace Jovanovich. Pp. 9-38.

Gwartney, James D., and Richard L. Stroup. 1993. What Everyone Should Know About Economics and Prosperity. Tallahasee, Fla.: James Madison Institute. Pp. 21-23.

Hazlitt, Henry. 1979. Economics in One Lesson. New Rochelle, N.Y.: Arlington House. Pp. 103-09.

Rand, Ayn. 1957. Atlas Shrugged. New York: Random House. Pp. 478-81.

Rothbard, Murray N. 2004. Man, Economy, and State with Power and Market. Auburn, Ala.: Ludwig von Mises Institute. Pp. 509-16; 1970. Man, Economy, and State. Los Angeles: Nash. Pp. 463-69.

Manado, 19 Februari 2016

diterjemahkan oleh amato dari buku The Concise Guide to Economics, 3rd Edition; chapter 3, karya Jim Cox.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s