Mendongkrak Harga

image

Mendongkrak harga – menetapkan harga yang lebih tinggi di masa darurat – membangkitkan respons emosional yang kuat yang bisa dimengerti tapi sangat keliru.

Dalam kata-kata ekonom Walter Williams, “isu yang hangat membutuhkan analisa yang dingin.” Gairah yang muncul oleh meningkatnya harga untuk keperluan pada masa darurat adalah salah satu contoh kasus. Tiga garis analisis menunjukkan bahwa “mendongkrak harga” bukan hanya tidak ofensif, tapi menghalanginya akan menambah kesengsaraan, dan bahwa hal itu bahkan dibutuhkan!

Ambil contoh, kasus beberapa barang panas selama masa darurat, katakanlah seperti tripleks setelah bencana topan. Sebelum topan, tripleks di luas secara umum seharga $8.00. Setelah topan harganya menjadi $50.00 atau tidak jarang malah lebih.

Garis analisis pertama harus penuh makna bagi merah, putih, dan biru, warga Amerika pecinta kebebasan. Jika seseorang (penjual) punya tripleks dan bersedia melepaskannya untuk $50.00, itu karena dia lebih memilih punya uang daripada tripleks. Jika ada orang lain (pembeli) punya $50.00 dan bersedia melepaskannya unruk mendapatkan tripleks, itu karena dia lebih memilih tripleks daripada uang $50.00. Tidak ada seorangpun yang dipaksa untuk terlibat dalam transaksi ini, kebebasan individu dijamin dalam pertukaran sukarela ini, dan hasilnya saling menguntungkan. Adakah yang perlu berkeberatan dengan pertukaran bebas yang saling menguntungkan?

Garis analisis kedua, upaya yang berhasil menghalangi mendokrak harga akan merusak keuntungan yang sangat diniatkan dalam contoh di atas. Dengan adanya ribuan kebutuhan, ada peningkatan permintaan yang cepat akan tripleks. Pada saat bersamaan, topan telah menghancurkan tripleks yang ada (terjebak di bawah reruntuhan, rusak, atau hilang) dan menjadi sangat sulit untuk membawa suplai tripleks tambahan yang baru ke wilayah bencana itu.

Melarang naiknya harga sebagai cara mengalokasikan suplai yang berkurang dengan permintaan yang meningkat akan menyebabkan kekurangan yang lebih hebat, dan tripleks yang akan digunakan kurang dari yang paling dibutuhkan. Contoh: Jika seseorang bisa menjual selembar tripleks pada harga legal atau yang ditentukan secara sosial $8.00, dia bisa saja memutuskan untuk menyimpannya untuk penggunaan yang relatif sepele daripada melepaskannya untuk penggunaan yang dianggap sangat penting oleh para calon pembeli. Pada harga $50.00 pilihannya mungkin akan berbeda. Kesengsaraan, karenanya, malah meningkat oleh implementasi aturan yang melarang mendongkrak harga.

Penjelasan juga harus dibuat bahwa harga suatu barang ditentukan oleh kondisi-kondisi aktual penawaran dan permintaan. Kemauan dan kemampuan pembeli dan penjual untuk berjual-beli adalah apa yang melandasi setiap harga partikular – sebelum dan sesudah situasi darurat. Dalam situasi darurat, fakta-fakta yang ada jelas telah berubah. Adalah sikap reaksioner dan berlawanan dengan kenyataan untuk menuntut harga yang tidak pernah berubah selamanya dalam dunia yang senantiasa berubah yang kita tinggali ini.

Dan pada garis analisis ketiga, akibat yang diinginkan dari “mendongkrak harga” yang berhasil pada harga setinggi $50.00 akan mendorong penjual untuk menambah suplai tripleks yang mencapai warga yang membutuhkan. Faktanya adalah, biaya mengirim barang-barang ke wilayah bencana tentu akan naik secara dramatis karena kerusakan. Kendaraan akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mencapai tujuan – bagaimanapun waktu adalah uang – kemungkinan pengemudi dan kendaraannya terjebak di wilayah yang terkena bencana adalah biaya lain yang meningkat, dan prospek perampok yang merampas barang dagangan juga meningkat. Semua ini dan berbagai faktor lainnya bisa berakibat mengurangi semangat pengiriman barang pada harga lama $8.00; pemasok dapat melakukan hal itu di tempat lain. Harga yang meningkat akibat mendongkrak harga (yang merupakan penamaan yang keliru) akan bermanfaat untuk mendorong suplai yang dibutuhkan – ini adalah salah satu dari sedikit penyelamatan yang bisa diupayakan oleh para korban bencana.

Tidak ada sedikitpun niat dari analisis ini untuk meremehkan upaya heroik dari badan-badan bantuan bencana, tapi hanya semata singgah untuk menyadari bahwa sebagai tambahan terhadap upaya bantuan, harga yang lebih tinggi pada dirinya sendiri adalah suatu keperluan untuk memastikan peningkatan arus barang pada saat dibutuhkan. Harga-harga yang meningkat ini bukanlah persoalan adil atau tidak adil, di luar reaksi emosional siapapun, tapi merupakan persoalan apa yang ada, berhadapan dengan fakta aktual dari situasi tersebut.

Referensi

Block, Walter. 1976. Defending the Undefendable. New York: Fleet Press. Pp. 192-202.

Brown, Susan, et al. 1974. The Incredible Bread Machine. San Diego, Calif.: World Research. Pp. 29-43.

Hazlitt, Henry. 1979. Economic in One Lesson. New Rochelle, N.Y.: Arlington House. Pp. 103-09.

Rothbard, Murray N. 1977. Power and Market: Government and the Economy. Auburn, Ala.: Ludwig von Mises Institute. Pp. 24-34.

————-. 1990. “Government and Hurricane Hugo: A Deadly Combination.” In The Economics of Liberty. Llewellyn H. Rockwell, Jr., ed. Auburn, Ala.: Ludwig von Mises Institute. Pp. 136-40.

Sowell, Thomas. 1981. Pink and Brown People. Stanford, Calif.: Hoover Institution Press. Pp. 72-74.

Manado, 23 Februari 2016

diterjemahkan oleh amato dari buku The Concise Guide to Economics, 3rd Edition; Chapter 6, karya Jim Cox.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s