Neoliberalisme sebagai Racun Segala Penyakit: Pandangan Austro-libertarianisme

oleh Amato Assagaf

Seperti kapitalisme pada beberapa waktu kemarin, neoliberalisme adalah racun bagi segala penyakit pada beberapa waktu belakangan ini. Sebut saja krisis keuangan 2008, korupsi dan kekayaan yang melarikan diri ke luar negeri, kemiskinan yang tak kunjungan terentaskan, pengangguran yang tak mau usai, lingkungan yang rusak, kesehatan dan pendidikan publik yang terus bermasalah, hingga kemunculan Donald Trump. Semua adalah penyakit yang berasal dari satu racun yang sama, neoliberalisme.

Saya tidak terlalu merasa asing dengan cara berpikir semacam ini. Karena saya telah terbiasa dengan mujarobat, obat penyembuh segala penyakit, teori konspirasi, dan segala hasrat untuk memberi satu jawaban bagi segala pertanyaan, namanya agama. Yang baik dari tuhan yang buruk pasti setan.

Persoalannya, kita tahu, baik secara teoritis apalagi di tingkat praktis, cara ini sesungguhnya jauh dari mujarab. Jika bukannya membujuk kita pada kemalasan intelektual yang nyaris sempurna, lebih mengharukan lagi, cara ini hanya menjelaskan bahwa kita belum cukup jauh dari cara berpikir seksis. Maksudnya, masih mengacu pada yang seksi dalam melakukan kerja intelektual.

Kenapa sosialisme tampak begitu menarik bagi kaum intelektual? Ada banyak jawaban yang telah diberikan oleh, di antara yang paling mumpuni, Mises dan Hayek. Salah satunya yang menarik dari keterangan mereka, sosialisme itu seksis. Baik dalam caranya merumuskan masalah hingga pada caranya menuntun jawaban untuk kita, sosialisme selalu seksis. Artinya, selalu tahu mana yang seksi untuk dibahas dan dipermasalahkan. Dan, kita tahu, sosialisme adalah jari yang menunjuk pada neoliberalisme sebagai racun segala penyakit yang sekarang kita derita.

Lebih jauh dari itu, sosialisme jugalah yang mendefinisikan semua itu sebagai “penyakit” untuk kita derita, tentu dengan cara yang juga seksi dalam merumuskan “solusi” yang sesungguhnya adalah penyakit. Sebut saja kebijakan inflasioner, pengeluaran pemerintah dalam jumlah besar, subsidi, kontrol harga, dan sejenisnya. Sosialisme menyebutnya solusi dan kita menerimanya, kemudian sakit atas nama kesetaraan.

Seksisnya sosialisme terletak pada, salah satunya, caranya menciptakan sebuah konsep menjadi mantra. Sebut saja kesetaraan itu tadi. Sedemikian seksinya mantra ini sehingga seorang kawan yang paling pro pasar tetap saja merasa harus menunjukkan bahwa “kami juga prihatin dengan persoalan itu.”

Bahwa konsep ini sesungguhnya adalah ikhtiar melawan alam (Rothbardian) dan sama sekali tidak fair (Randian), tidak mampu bahkan sekedar untuk kita renungi. Bukan tidak mampu, barangkali, tapi di hadapan kenyataan yang sama sekali tidak seksi, begitu bejibun, rumit, tua, jelek, dan melelahkan secara intelektual, analisa atas kesetaraan sebagai sebuah ‘masalah yang bermasalah pada dirinya sendiri’ sama sekali tampak lebih tidak seksi lagi.

Dengan mengucap kesetaraan, mantra itu, kita seolah mendapatkan arah tujuan bagi segala solusi yang kita butuhkan, sekaligus pukulan mematikan terhadap lawan. Mantra seksi lainnya tentu saja adalah sumber masalah kita. Seperti yang sudah saya katakan, kemarin, kapitalisme. Tapi sejak kata ini telah menjadi terlalu rumit bahkan bagi lawan-lawannya sendiri, maka dibutuhkan sebentuk penyederhanaan yang baru. Yang lebih ramping, dan tanpa banyak asesoris apalagi pakaian lengkap. Namanya, sekarang, neoliberalisme.

Di zaman Karl Marx dan para sejawatnya, kapitalisme masih ramping dan belum berbusana. Tampak seksi sebagai sumber syahwat dan pendangkalan moralitas umat manusia. Lalu kapitalisme menjadi gemuk dan ditumpuki bejibun asesoris serta busana yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Singkatnya, tidak lagi seksi. Menjadi rumit seperti di dalam buku-buku Zizek dan Badiou, atau Fredric Jameson dan Terry Eagleton, atau bahkan Ha-Joon Chang dan Thomas Piketty yang kurang atau bukan Marxis.

Maka dibutuhkan sumber syahwat yang baru. Lalu muncul Pinochet, Konsensus Washington, mazhab Chicago dan, tentu saja, Milton Friedman. Naomi Klein memberinya sejarah yang, tentu saja, dramatis dan kita ramai-ramai mengeroyoknya dalam satu mantra yang sama, neoliberalisme. Bangsat utama, satu saja virus yang cukup sederhana untuk dipahami dengan akibat yang begitu menakjubkan: segala penyakit ekonomi dan etika kita hari ini.

Saya menemukan kemalasan intelektual ketika membaca nama Hayek di situ. Dari mana Fridriech von Hayek, murid Mises dan mbahnya Austro-libertarianisme yang tidak ada hubungannya dengan Konsensus Washington serta semua dramatika sejarah sejenis tiba-tiba menjadi pentolan neoliberalisme hanya karena Margaret Thatcher mengangkat bukunya dalam sebuah pertemuan kabinet Tory sebagai jawaban atas problem sosialisme?

Hayek, lengkap dengan popularitas, sejumput misteri, Mont Pelerin Society, dan kebenciannya yang terlalu terhadap segala bentuk kolektivisme dan keangkuhan perencanaan terpusat atas ekonomi; bentuk kebencian yang menjadi ciri khas Austro-libertarianisme, tentunya sangat seksi sebagai korban kemalasan intelektual itu.

Oh ya, yang seksi tentunya harus memiliki sejarah dan sejarah yang seksi tentunya harus dramatis. Hayek, kita tahu, cukup dramatis sebagai figur seksi dalam sejarah intelektual. Sasaran yang bagus bagi penulis seksis seperti, misalnya, Naomi Klein.

Tapi lepas dari apakah Hayek adalah seorang pemikir neoliberal atau bukan (dalam kadar tertentu dia dan seluruh gerbong Austro-liberatrian berbagi kesepakatan yang sama soal kebebasan pasar dengan kaum neoliberal), tetap saja neoliberalisme sebagai sumber segala masalah hanyalah persoalan lama yang harus selalu dihadapi oleh setiap ikhtiar untuk menyelesaikan masalah.

Kita tahu bahwa, berbeda dengan para kritikus ekonomi dan sosial yang seksis itu, para pemikir seperti Hayek dan Friedman, berdasarkan keunggulan intelektual dari gagasan-gagasan mereka, berada dalam kerinduan yang abadi untuk mempersembahkan diri dan kapasitas intelektual mereka bagi penyelesaian persoalan yang tengah kita hadapi di atas bumi di bawah langit ini.

Dan kita juga tahu bahwa setiap ikhtiar untuk menyelesaikan masalah di atas bumi di bawah langit akan membawa kita pada mekanisme coba-gagal yang tak akan pernah usai. Neoliberalisme (Friedman dan lain-lainnya) berada dalam pusaran kutuk ini. Dan para kritisi seksis itu, selalu punya cara untuk menemukan titik gagal dengan mengabaikan percobaannya.

Dengan kata lain, berbeda dari neoliberalisme, mereka – saya ingin menggunakan mantra seksis yang juga sama – kaum sosialis hanya pintar dalam melemparkan kritik. Itulah kenapa pertanyaan utama kita selama ini selalu sama, jika (dulu; kapitalisme) neoliberalisme adalah sumber masalah kenapa (dulu; sosialisme) kaum kiri tidak juga punya solusi? Seksisme, dramatisasi dan, tentu saja, ilusi serta mantra tidak diciptakan untuk menyelesaikan masalah.

Dari sudut pandang Autro-libertarianisme (Hayek salah satunya) jawaban-jawaban neoliberalisme (Hayek bukan salah satunya) adalah solusi yang pincang jika bukannya buta. Satu sisi lain dari mata uang yang sama dengan ide-ide ekonomi intervensionis seperti ordoliberalisme dan, lebih buruk lagi, Keynesianisme.

Jawaban terbaik dari kiri atas persoalan (ekonomi; dan memang ini soal ekonomi) kita hari ini hanya bisa datang dari Keynesianisme dalam segala variasinya. Saya telah berhenti bermimpi untuk menemukan jawaban khas Marxis, misalnya, seperti saya telah berhenti bermimpi untuk menemukan solusi neoklasik. Rothbard punya pendapat yang sangat profetik dalam persoalan ini.

Saya kutip ucapannya dari ingatan saya sendiri (karena mengutip Rothbard secara langsung itu bidah besar dalam tradisi ilmu ekonomi). Satu-satunya yang benar dari Marx, kata Rothbard, dia bukan seorang Keynesian. Kata-kata ini profetik karena mampu meramalkan bahwa jawaban paling sosialis (di mana Marx berkubu) bagi problem ekonomi kita hari ini bukanlah Marxisme tapi Keynesianisme.

Bukan sosialisme secara langsung, karena tidak ada ekonom yang cukup tolol untuk menyetujui model ekonomi sosialisme murni, tapi intervensionisme dan proteksionisme dengan persetujuan secukupnya terhadap mekanisme pasar (mantra seksinya hari ini adalah sosial-demokrat). Saya mau saja bersetuju dengan kebanyakan kritisi kiri bahwa neoliberalisme adalah solusi yang membawa masalah tapi tidak mau melihatnya dalam setidaknya tiga kesimpulan berikut.

Pertama, setiap jawaban neoliberalisme adalah bencana. Advokasi mereka terhadap peran para pelaku pasar dan mekanisme pasar bebas tetap masih kita butuhkan tapi, dengan catatan, tanpa bank sentral dan kebijakan mencetak uang. Dengan kata lain tanpa intervensionisme baru dan tanpa metodologi “membuka mulut kuda untuk menghitung giginya” yang mereka jagokan. Model empirisisme positivistik yang lancung bagi ilmu sosial apapun termasuk, dan terutama, ilmu ekonomi.

Kedua, bahwa kebijakan mereka hanya menciptakan ketidaksetaraan. Persoalannya lebih rumit dari apa yang tampak ketika kebijakan neoliberal diambil; kesetaraan, seperti konsep dialektika, hanya ada dalam pikiran bukan kenyataan. Niat yang baik dari upaya untuk mencapai kesetaraan harus tetap berada dalam logika hasil. Friedman mengisyaratkan ini dengan mengingatkan kita bahwa yang mesti dinilai itu bukan niat tapi proses dan hasilnya.

Ketiga, bahwa neoliberalisme adalah sumber segala masalah. Ini seksis, dramatis, ilusif. Seperti cerita-cerita dalam sinetron kita yang malas secara intelektual dan mengharukan bagi tingkat permukaan dari rasa kemanusiaan kita. Sebagai seorang Austro-libertarian, saya lebih suka berpikir seksis seperti kawan-kawan dari kiri itu dan memberikan jawaban yang sama; neoliberalisme sebagai racun segala penyakit.

Tapi Mises, Hayek, Rothbard, dan seluruh pemikir dalam gerbong kami, termasuk Ayn Rand dan Milton Friedman sendiri, melarang kemalasan intelektual seperti itu. Neoliberalisme adalah sebuah ikhtiar dengan keyakinan yang benar namun tafsiran yang keliru. Perbedaan kami, kaum Austro-libertarian, dengan para neoliberal terletak pada persoalan metodologi yang membawa pada salah tafsir di tingkat kebijakan.

Neoliberalisme tidak mendatangkan bencana tapi sebuah peringatan keras pada bahaya melakukan uji coba ekonomi yang tidak sempurna di tingkat metodologi. Neoliberalisme, dalam pandangan kami (saya suka merasa diri sebagai seorang Austro-libertarian), adalah sebuah bukti bahwa pasar bebas hanya punya satu arti: pasar yang bebas dari campur tangan negara dengan alasan apapun.

Selebihnya, kita hanya perlu mencabut tangan-tangan yang terlanjur ditampakkan oleh neoliberalisme hanya karena Freidman salah paham dengan konsep non-intervensi yang dianjurkan Mises dan Hayek dalam teori-teori mereka. Kata Friedman, saya bisa menerima analisa mazhab Austria dalam persoalan ini (teori siklus bisnis) tapi saya tidak tahan dengan kebijakan do nothing mereka.

Jelas bukan kenapa Friedman dan neoliberalisme gagal? Mereka tidak percaya pada prinsip laissez-faire. Artinya, mereka tidak percaya pada mekanisme pasar. Menganggapnya sebagai semacam kultus dari sebuah sekte bidah dalam ekonomi. Soros menyebutnya fundamentalisme pasar dan saya membayangkan bahwa dia menemukan istilah ini karena terlalu banyak menonton film porno dari genre Gonzo.

Kenapa ada ketidakpercayaan ini? (Ingat, kita sedang bicara tentang Friedman bukan Stiglitz). Karena Friedman tidak punya metodologi untuk sampai pada kesimpulan bahwa sementara mekanisme pasar tidak pernah mungkin menjadi sempurna, mekanisme yang sama yang gagal membaca informasi pasar, akan berlaku sedemikian rupa untuk memberikan jawaban yang berhasil.

Yang ‘sedemikian rupa’ itu juga bukannya tanpa penjelasan. Hayek menyebutnya sebagai mekanisme penyebaran informasi di dalam pasar yang tidak terhalang. Kirzner menjelaskannya lewat paparannya mengenai entrepreneurship dalam pusaran informasi yang keberhasilannya (dan juga berbagai bentuk kegagalannya – karena kita sedang bicara tentang jutaan individu manusia, bukan agregat) tergantung pada kebebasannya.

Dalam penjelasan ini tidak ada yang seksi karena rumit dan begitu berbagai. Tidak ada yang dramatis karena realistis dan begitu rasional. Tidak ada yang ilusif karena kita sedang bicara soal ekonomi bukan sulap dan akrobat. Artinya, terlalu manusiawi bagi hasrat positivistik kita akan satu obat bagi segala penyakit yang, dalam kemarahan dan kekecewaan, selalu berubah menjadi satu racun bagi timbulnya persoalan yang sama.

Apa yang sama antara sosialisme dengan sedulur jauh mereka para intervensionis dari kubu Keynesian dan, ironisnya, kaum neoliberal yang mereka mantrakan sebagai lawan? Sama-sama tidak percaya Hayek dan gagasannya mengenai tatanan spontan. Dan itu cukup untuk (dalam gaya berpikir yang sama dengan mereka tapi dengan konsekuensi yang sesungguhnya jauh berbeda) sebagai pembeda antara mereka semua dengan kaum Austro-libertarian yang saya beserta beberapa kawan di Manado ingin menjadi bagian darinya sebagai sebuah gerakan intelektual bagi persoalan Indonesia kita hari ini.

Manado, 18 April 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s