Yang Terburuk Berada di Puncak: Biografi Friedrich Hayek

oleh Jim Powell

image

Friedrich A. Hayek adalah ekonom penerima Hadiah Nobel. Dia memberikan sumbangan bagi pemahaman kita atas ekonomi pasar bebas dan masyarakat bebas pada umumnya.

Sosialisme menarik bagi idealisme intelektual, tetapi sosialisme membawa tirani yang paling mengerikan. Dilihat dari sudut pandang kebebasan manusia, sosialisme adalah bencana di mana-mana.

Lebih dari siapapun, penerima Nobel Friedrich Hayek menunjukkan kenapa sosialisme menyepelekan kebebasan manusia dan, jika ditelusuri lebih jauh, pasti membawa tirani. Dia mengatakan kenapa para bandit mendominasi begitu banyak rezim sosialis. Dia menjelaskan bagaimana lembaga-lembaga masyarakat bebas berkembang tanpa perencanaan terpusat.

“Selama bertahun-tahun,” penerima Nobel lainnya Milton Friedman menunjukkan, “Saya berulang kali bertanya kepada sesama rekan yang meyakini masyarakat bebas bagaimana mereka menghindari penularan dari lingkungan intelektual kolektivis mereka. Tak ada nama yang bisa disebut lebih sering sebagai sumber pencerahan dan pemahaman dalam soal itu daripada Friedrich Hayek… Saya, seperti yang lain, berhutang besar padanya… pada pemikiranya yang luar biasa… pada penjelasannya yang jernih dan selalu berprinsip yang telah membantu memperluas dan memperdalam pemahaman saya mengenai makna dan kebutuhan dari sebuah masyarakat bebas.”

Mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher pernah menulis bahwa “kritik yang paling kuat atas perencanaan sosialis dan negara sosialis yang saya baca saat ini [akhir 1940an], kepada apa saya seringkali mengacu [adalah] karya F.A. Hayek The Road to Serfdom.” Futuris Peter F. Drucker menyebutnya “filsuf sosial terkemuka pada zaman kita.”

Jurnalis pemenang Hadiah Pulitzer Daniel Yergin melaporkan dalam The Commanding Heights (1998), yang ditulis bersama Joseph Stanislaw: “Konsep dan gagasan yang sangat menentukan di luar arus utama sekarang telah bergerak, dengan kecepatan tertentu, ke tengah panggung dan membentuk kembali ekonomi di setiap sudut bumi… Hayek, pendukung pasar bebas yang sengit… adalah yang paling terkemuka.”

image

Dia adalah seorang lelaki kurus yang tampak berbeda dengan tinggi satu atau dua inci di atas enam kaki. Memiliki kumis kecil kelabu dan, di masa lanjutnya, rambut putih yang tersisir rapi. Dia berbicara lambat dan penuh pemikiran dengan aksen Austria yang kental. Dia adalah pejalan kaki yang bersemangat, menghabiskan sebanyak mungkin musim panas di Alps. Dia gemar sekali mengumpulkan buku-buku langka mengenai ekonomi, filsafat dan sejarah, dan membangun tiga perpustakaan yang luar biasa selama hidupnya.

Sementara beberapa murid menemukan kuliah-kuliahnya sangat sulit untuk diikuti, yang lain begitu terpikat. Misalnya, Majorie Grace-Hutchinson yang bertemu dengan Hayek di London School of Economics selama tahun 1940an: “Dia biasa memberi kuliah sambil berjalan ke sana kemari, dan dia bicara dalam nada bercakap-cakap, tanpa menekankan atau menonjolkan kepintarannya. Ingatannya yang menakjubkan dan latar humanistik yang luas memungkinkan dia untuk mempersembahkan ide-ide menarik para filsuf, ahli hukum, politisi dan pebisnis dari banyak negeri dan dari setiap periode, dan dia tidak pernah kesulitan menarik perhatian sejumlah besar pelajar yang selalu mengisi ruang kelasnya.”

Sekalipun Hayek mempertahankan pandangan yang kontroversial selama berbilang dekade, dia biasa menjaga silaturahmi dengan lawan-lawannya. Dia mengembangkan hubungan yang hangat dengan ekonom Inggris John Maynard Keynes yang mendukung intervensi pemerintah dalam ekonomi yang tidak dia setujui. Sebagai petunjuk terhadap niat baiknya, Hayek mempersembahkan karya terkenalnya, The Road to Serfdom (1944), kepada para sosialis dari semua kalangan.” Penerima Nobel George J. Stigler menemukan bahwa “Hayek selalu menjadi seorang gentleman dan sekaligus sarjana.”

Friedrich August von Hayek lahir tanggal 8 Mei 1899 di Wina yang merupakan salah satu ibukota intelektual besar di Eropa. Dia sulung dari tiga putra Felicitas Juraschek dan Dr. August von Hayek, seorang profesor botani di Universitas Wina.

Sudah sejak awal, dia suka membaca mengenai segala macam hal, dan selama Perang Dunia I, saat dia berada di kesatuan tentara Austria, dia membaca karya Carl Menger Grundsatze der Volkswirtschaftslehre [Prinsip-prinsip Ilmu Ekonomi]. Menger menjelaskan bagaimana pasar bekerja, dan Hayek merasa puas. Setelah perang, pada 1918, dia mendaftar di Universitas Wina di mana dia mendapatkan gelar dalam hukum (1921) dan ilmu politik (1923).

Pada Oktober 1921, Hayek bertemu Ludwig von Mises yang menjadi penasehat finansial pada Kamar Dagang. Bukunya tahun 1912 The Theory of Money and Credit telah membuat Mises menjadi ekonom yang dihormati, dan Mises menjelaskan bagaimana ekspansi uang dan kredit pemerintah yang menyebabkan inflasi menjadi berita halaman depan. Mises menemukan pekerjaan buat Hayek dengan gaji awal 5,000 kronen lama per bulan. Dalam upaya mengatur daya beli, di tengah inflasi Austria pasca perang, gajinya menjadi berlipat tiga dalam 30 hari, dan sembilan bulan kemudian gajinya menjadi satu juta kronen lama per bulan.

Mises memiliki dampak yang luar biasa dalam karir Hayek. Buku Mises tahun 1922 Die Gemeinwirtschaft [Sosialisme] meyakinkan Hayek bahwa ekonomi yang dijalankan pemerintah akan menjadi bencana. Berkat upaya Mises, Hayek mendapatkan bantuan dari Yayasan Rockefeller yang memungkinkan para intelektual Eropa untuk mengunjungi Amerika Serikat. Dari Maret 1923 hingga Juni 1924, Hayek menghadiri kelas-kelas di Universitas New York, Universitas Columbia dan New School, yang membantunya belajar bahasa Inggris. Dia menulis surat dalam bahasa Inggris mengenai inflasi, yang diterbitkan di New York Times 19 Agustus 1923. Di Perpustakaan Publik New York, dia membaca berita-berita mengenai Perang Dunia I, dan dia merasa heran berita-berita itu sangat berbeda dengan laporan-laporan dari pemerintah Austria. Ini membuatnya menjadi skeptis luar biasa terhadap pemerintah.

image

Kembali ke Wina, Hayek mulai menghadiri seminar pribadi Mises yang dilaksanakan dua kali per bulan mengenai ekonomi pasar bebas, di kantor Mises di Kamar Dagang. Pada Januari 1927, Hayek, dengan bantuan Mises, mendirikan Osterreichische Konjunkturforschunginstitut [Lembaga Riset Siklus Bisnis Austria]. Dua tahun kemudian, Hayek menjadi Privatdozent di Universitas Wina, yang berarti dia bisa mengajar para mahasiswa di situ – tanpa bayaran.

Hayek jatuh cinta pada sepupunya Helene Bitterlich, tapi dia tidak pernah melamar sebelum dia sendiri ke Amerika, dan saat kembali 14 bulan kemudian, Helene sudah bersama lelaki lain yang kemudian dinikahinya. Di Abrechnungsamt, Hayek bertemu Berta Maria von Fritsch, yang dikenal dengan Hella. Mereka menikah pada musim panas tahun 1926. Mendapatkan dua anak, Maria Felicitas (1929) dan Lorenz (Laurence) Josef Heinrich (1934).

Terkesan oleh karyanya mengenai sebab depresi ekonomi, guru besar ekonomi Lionel Robbins mengundangnya untuk memberikan kuliah tamu di London School of Economics dan kemudian menjadi profesor penuh di situ. Hayek memperkenalkan para ekonom berbahasa Inggris dengan pandangan Austria bahwa depresi merupakan konsekuensi dari inflasi uang dan kredit yang terjadi sebelumnya. Saat inflasi yang merusak berhenti, banyak bisnis yang jatuh karena telah terlanjur tergantung pada harga yang terus naik. Hayek menjadi warga negara Inggris dan mengajar di London School hingga 1949.

Seminar-seminar Hayek mempengaruhi banyak orang. Penerima Nobel Ronald H. Coase mengenang Hayek karena “mendorong keketatan dalam pemikiran kami dan memperluas visi kami.” Hayek menghadiri ceramah filsuf kelahiran Austria Karl Popper di sebuah seminar, dan Popper memperluas ceramahnya itu ke dalam bukunya yang paling kontroversial, The Open Society and Its Enemies (1945), sebuah serangan yang bersemangat pada kolektivis seperti Plato dan Karl Marx. Hayek membantu mencarikan penerbit dan merayu rekan-rekannya di London School of Economics untuk memberi posisi mengajar pada Popper.

Selama tahun 1930an, pengaruh Hayek dikerdilkan oleh ekonom Cambridge John Maynard Keynes yang bukunya The General Theory of Employment, Interest and Money (1936) mengatakan pada para politisi untuk mengobati depresi dengan inflasi. Hal itu tidak bekerja, tapi para politisi ingin membuang uang, karena itulah mereka mengikuti saran itu, dan Keynes dihormati sebagai seorang jenius. Di luar ketidaksepakatan mereka, Hayek dan Keynes bersahabat baik.

image

Hayek berfokus pada perencanaan terpusat yang merebut imajinasi kaum intelektual dan politisi hampir di semua tempat. Dia menyadari adanya kritik menentukan atas perencanaan terpusat, yang diterbitkan di Jerman, yang tidak dikenal di antara pembaca berbahasa Inggris. Karena itu, dia mengumpulkan terjemahan Inggris dari esai-esai Ludwig von Mises, N.G. Pierson dan Georg Halm ke dalam sebuah buku, Collectivist Economic Planning (1935). Mereka menunjukkan bahwa tanpa harga pasar bebas ekonomi tidak akan bekerja secara efisien.

Pada tahun 1936, Hayek memberikan ceramah, “Ekonomi dan Pengetahuan,” di London Economic Club, dan Economica menerbitkannya. Dia menjelaskan bahwa kemakmuran tergantung pada penyadapan sejumlah besar informasi mengenai apa yang diinginkan orang-orang dan sebaik apa hal itu ditawarkan. Informasi tersebut menyebar di antara jutaan orang dan berubah secara konstan, yang mengutuk perencanaan terpusat ke dalam kegagalan.

Sementara itu, Hayek secara empatik tidak sepakat dengan kaum intelektual yang mengklaim Nazi sebagai “sejenis reaksi kapitalis terhadap kecenderungan-kecenderungan sosialis pada periode pasca perang barusan,” sebagaimana dia menyebutnya. Dia percaya sosialisme menuntun pada tirani dan bahwa Nazi – Nasional Sosialis – adalah semata ragam dari tirani sosialis. Pada edisi Mei 1940 dari Economica diterbitkan artikel Hayek “Kalkulasi Sosialis: ‘Solusi’ Kompetitif,” di mana dia menulis bahwa dalam ekonomi yang dikendalikan pemerintah, “semua persoalan ekonomi menjadi persoalan politik, karena hal itu bukan lagi persoalan merekonsiliasi sejauh mungkin pandangan dan hasrat individual, tapi menjadi pemaksaan skala nilai tunggal.”

Pada September 1940, Hayek mulai menuangkan gagasan ini ke dalam sebuah buku. Menghabiskan waktu hampir empat tahun. Setelah Jerman mulai membombardir London, London School of Economics pindah dari tempat mereka di Houghton Street ke Peterhouse College, Cambridge, dan Keynes mendapatkan tempat tinggal untuk keluarga Hayek di King’s College, Cambridge. Tempat tinggal tersebut dingin, jadi mereka pindah ke sebuah gudang yang telah diubah di dekat situ, dan di tempat itulah Hayek menyelesaikan bukunya.

Dia mencatat ada kesepakatan umum mengenai beberapa fungsi pemerintah seperti menyediakan pertahanan nasional dan menghukum para pelakum kejahatan berat, tapi begitu pemerintah meluas melampaui wilayah kesepakatan umum, ia harus memaksakan konformitas. Perencanaan ekonomi terpusat, jelas Hayek, bermakna semakin banyak pemaksaan karena para pejabat mendapatkan kekuasaan untuk menentukan pekerjaan apa yang mesti dilakukan orang, jenis kendaraan apa, pena apa, apel apa dan segala sesuatunya yang mesti diproduksi – dan siapa yang harus mendapatkannya. Dia mengamati bahwa kekuasaan menarik mereka yang tidak berkeberatan untuk memenjarakan bahkan mengekskusi orang. Itulah kenapa “yang terburuk berada di puncak.”

image

Dijuduli The Road to Serfdom (Jalan Lempang ke Perbudakan) – mengikuti frasa Alexis de Tocqueville “jalan lempang ke perhambaan” – buku Hayek diterbitkan di Inggris pada 10 Maret 1944. Buku itu mendulang kontroversi, dan terjual habis 2000 eksemplar. Untuk mendapatkan penerbit Amerika, Hayek meminta bantuan pada Fritz Machlup, ekonom yang pernah menghadiri seminar Mises di Wina dan pindah ke Amerika Serikat serta mendapatkan pekerjaan di Washington, D.C. Machlup tidak bisa menarik minat penerbit manapun atas buku itu, tapi dia menunjukkan cetakan percobaan buku itu kepada Aaron Director, ipar Milton Friedman. Tampaknya dia mengirimkan cetakan itu kepada profesor Frank Knight di departemen ekonomi Universitas Chicago. Knight merekomendasikan buku itu kepada William Couch, editor di University of Chicago Press, dan diterima. Mereka menerbitkan sebanyak 2000 eksemplar.

Lalu muncullah review sepanjang 1500 kata dari jurnalis libertarian Henry Hazlitt di halaman depan Sunday New York Times Book Review, 24 September 1944. Hazlitt mendeklarasikan bahwa “Friedrich Hayek telah menulis salah satu buku yang paling penting dari generasi kita.” University of Chicago Press menerbitkan 10.000 eksemplar lagi, dan ada permintaan hak untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Jerman, Spanyol dan Belanda. Editor kepala Reader’s Digest Dewitt Wallace memberikan 20 halaman pertama dari edisi April 1945 dalam ringkasan atas buku itu. Pada saat itu, Reader’s Digest memiliki sirkulasi sekitar 8.000.000. Terlebih lagi, Book-of-the-Month Club dari Harry Scherman, penjual buku terbesar di Amerika, mendistribusikan sejumlah 600.000 buku ringkasan. Sejak kemunculannya, buku itu telah terjual lebih dari 80.000 eksemplar hardcover dan 175.000 eksemplar paperback di Amerika Serikat, ditambah dengan edisi resmi di hampir 20 bahasa dan edisi tidak resmi dalam bahasa-bahasa Eropa Timur.

Buku itu menghantam perasaan responsif dari sejumlah lawan intelektual Hayek. Keynes menulis pada Hayek: “Dalam pendaoat saya ini buku yang besar – baik secara moral maupun secara filosofis, saya menemukan diri bersepakat dengan seluruh isinya; dan tidak hanya sekedar bersepakat, tapi dalam kesepakatan yang mendalam.” George Orwell, sosialis yang menyerang totalitarianisme dalam novelnya Animal Farm dan 1984, mengakui bahwa tesis Hayek memuat “banyak kebenaran – kolektivisme tidak demokratis secara inheren tapi, sebaliknya, memberikan kekuasaan pada minoritas tiranis yang tidak pernah dibayangkan bahkan oleh Inkuisitor Spanyol.”

University of Chicago Press meminta Hayek melakukan kuliah keliling, sebuah pengalaman baru baginya. Dia mengatakan pada seorang pewawancara, “saat saya dijemput di hotel saya [di New York]… saya ditanya, ‘Audiens seperti apa yang kamu harapkan?’ Kata mereka, ‘Aula memuat 3000 orang tapi pengunjung berlimpah melebihi batas.’ Tuhanku, saya tidak tahu harus bicara apa. ‘Bagaimana kamu mengumumkannya?’ ‘Oh, kami menyebutnya ‘Aturan Hukum dalam Urusan Internasional.’ Tuhanku, saya tidak pernah memikirkan masalah itu selama hidup – saya bertanya pada ketua panitia apakah tiga perempat jam sudah cukup. ‘Oh tidak, harus tepat satu jam… kamu juga disiarkan di radio.” Hayek sedang jadi hit.

Selama pemilihan parlementer 1945, Winston Churchill mengambil tema kampanye dari buku Hayek. Pada 4 Juni, dia memperingatkan bahwa Pemerintahan Buruh tidak akan “mengizinkan penggunaan kata-kata bebas, tajam atau keras terhadap ketidakpuasan publik… mereka akan jatuh pada beberapa bentuk Gestapo…” Pemimpin Partai Buruh Clement Atlee mencemooh pidato ini sebagai “versi tangan kedua dari pandangan akademis seorang profesor Austria, Friedrich August von Hayek.” Partai Buruh memenangkan pemilihan, Atlee menjadi Perdana Menteri berikutnya, dan pada musim gugur 1947, mereka menetapkan kerja paksa masa damai. Seperti yang dijelaskan ekonom John Jewkes, “Menteri Tenaga Kerja punya kekuasaan untuk mengarahkan pekerja mengganti pekerjaan mereka dengan kerja yang dia anggap terbaik bagi kepentingan nasional.” Untungnya, Partai Buruh kalah dalam pemilihan 1950.

Sementara itu, pada 1947 Hayek menyerukan pertemuan antara para sarjana, jurnalis dan lain-lain yang prihatin dengan persoalan kebebasan. “Setelah penerbitan The Road to Serfdom,” kenang Hayek, “Saya diundang untuk memberikan banyak kuliah. Selama perjalanan saya di Eropa juga Amerika Serikat, hampir di setiap tempat yang dituju saya bertemu seseorang yang mengatakan bahwa dia sepenuhnya sepakat dengan saya, tapi bahwa pada saat yang sama dia merasa sepenuhnya sendirian dalam pandangannya dan tidak ada orang dengan siapa dia bisa sekedar bicara mengenai hal itu. Ini memberiku gagasan untuk mengumpulkan orang-orang yang hidup dalam kesendirian ini di satu tempat. Dan dengan keberuntungan saya bisa mendapatkan uang untuk mewujudkan keinginan ini.” Tiga puluh enam partisipan dari 10 negara berkumpul di Hotel du Parc, Mont Pelerin, dekat Vevey, Swis, dari tanggal 1 hingga 10 April 1947. Mereka bertukar pandangan dan membentuk Mont Pelerin Society. Empat anggota aslinya adalah pemenang Hadiah Nobel.

University of Chicago Law Review (Spring 1949) mempublikasikan essay Hayek “Kaum Intelektual dan Sosialisme.” Dia menulis, “Pelajaran utama yang mesti dipelajari oleh seorang liberal sejati dari keberhasilan sosialis,” tulisnya, “adalah keberanian mereka untuk menjadi Utopis yang memberi mereka dukungan dari kaum intelektual dan karenanya pengaruh atas opini publik yang dari hari ke hari membuat mungkin apa yang baru-baru ini saja tampak sangat jauh.” Ribuan kopi esai ini didistribusikan selama beberapa tahun, dan pandangan Hayek mengilhami upaya di banyak negara untuk mempengaruhi kaum intelektual dan pada puncaknya kebijakan publik demi kebebasan.

image

Saat mengunjungi Austria untuk melihat anggota keluarga yang selamat dari perang, Hayek menemukan bahwa cinta pertamanya Helene Bitterlich telah menjadi janda dan karenanya bebas untuk menikah dengannya. Hayek dan istrinya Hella telah berpisah pada Desember 1949. Kawan-kawannya merasa kecewa karena itu. Segera sesudah perceraian pada Juli 1950, Hayek menikahi Bitterlich, dan mereka tetap bersama dalam seluruh sisa hidupnya.

Hayek harus meninggalkan Inggris, dan tujuan terbaiknya adalah Amerika Serikat. Universitas Chicago punya kemungkinan karena The Road to Serfdom, tapi departemen ilmu ekonomi tidak menginginkannya. Princeton dan Stanford menolaknya. Setelah mengajar selama setahun di Universitas Arkansas, John U. Nef, Kepala Komite Universitas Chicago dalam Pemikiran Sosial, mengundangnya menjadi Professor of Social and Moral Science. Universitas Chicago tidak memberinya gaji, tapi Harold W. Luhnow dari William Volker Fund setuju untuk menanggulanginya. Kantor Hayek adalah Ruang 506 di gedung Ilmu-ilmu Sosial di 59th Street.

Salah satu muridnya, Shirley Robin Letwin, mengenang bahwa “Pada Rabu, setelah makan malam, sejumlah besar orang bijak dan anak muda, datang dari semua disiplin studi dan semua bangsa, berkumpul di sekitar meja ek bundar dalam sebuah ruangan bergaya Gothik untuk membicarakan topik yang diusulkan Hayek… filsafat, sejarah, ilmu sosial, dan pengetahuan secara umum… Hayek memimpin perkumpulan yang luar biasa ini dengan ketulusan yang lemah lembut yang membuat seminarnya menjadi latihan dalam kebajikan-kebajikan liberal… Subyek umumnya adalah liberalisme [pasar]… satu-satunya kewajiban adalah memasuki pemikiran orang lain dengan kejituan dan menerima pertanyaan serta perbedaan pendapat dengan anggun.”

Karena pandangan atas sejarah mempengaruhi kebijakan yang ada, Hayek mengumpulkan sumbangan dari para sejarawan ekonomi T.S. Ashton dan Louis Hacker, para ekonom W.H. Hutt dan Bertrand de Jouvenal ke dalam sebuah buku, Capitalism and the Historians (1954). Mereka menolak pandangan yang luas dianut bahwa pasar bebas membuat orang menjadi lebih sengsara dan bahwa regulasi pemerintah dibutuhkan. Buku tersebut memberitahukan bagaimana orang-orang secara sukarela berpindah dari wilayah pedesaan miskin menuju pabrik-pabrik karena seberat apapun kerja pabrik, hal itu memungkinkan mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan lebih panjang.

Pada 1956, Hayek diundang untuk memberikan ceramah untuk Bank Nasional Mesir. Dia memilih sebagai subyek pembicaraannya “Ideal Politik dari Aturan Hukum.” Dia mengamati sejarah dari usaha membatasi kekuasaan pemerintah dengan mengupayakan aturan hukum (rule of law), hukum yang berlaku setara bagi semua orang dan dengan begitu orang-orang bisa merencanakan hidup mereka sesuai dengan itu. Hayek mengembangkan gagasan-gagasan ini secara lebih lengkap dalam The Constitution of Liberty. Seperti John Milton dan John Stuart Mill, Hayek mengatakan bahwa karena kita tidak pernah tahu dari mana penemuan akan datang, maka bersifat esensial bahwa orang-orang bebas untuk mengejar kebenaran. Dia menulis, “alasan utama kenapa kita harus memikul seluruh tanggungjawab bagi keputusan kita adalah bahwa hal ini akan mengarahkan perhatian kita pada sebab peristiwa yang tergantung pada keputusan kita. Pengakuan akan kepemilikan jelas adalah langkah pertama dalam membatasi ruang privat yang melindungi kita dari kekerasan. Kita jarang berada dalam posisi melaksanakan rencana aksi yang koheren kecuali kita merasa pasti terhadap kendali eksklusif kita atas beberapa obyek material…”

Hayek menyimpulkan kerangka legal untuk kebebasan. Pertama, hukum harus mengatur bukannya memerintahkan secara spesifik apa yang mesti dilakukan orang. “Alasan untuk mengamankan bagi setiap individu jarak yang diketahui di mana dia bisa menentukan tindakan-tindakannya yang memungkinkan dia memanfaatkan pengetahuannya secara sepenuhnya,” catat Hayek. Terlebih lagi, hukum harus bersifat umum, berlaku pada pemerintah sebagaimana pada masyarakat. Ini tidak akan menghalangi semua hukum yang buruk untuk dilanggar, tapi jika para pembuat hukum tahu bahwa hukum berlaku dengan penuh kekuatan pada mereka, maka mereka akan tidak mudah untuk mengacau.

Hayek menunjukkan bahwa “hari ini konsepsi aturan hukum terkadang dikacaukan dengan kebutuhan atas semata legalitas dalam semua tindakan pemerintah. Aturan hukum, tentu saja, mengandaikan legalitas lengkap, tapi ini tidak cukup: jika hukum memberikan pada pemerintah kekuasaan tak terbatas untuk bertindak sesukanya, semua tindakannya akan menjadi legal, tapi itu pastinya tidak akan berada di bawah aturan hukum. Aturan hukum tersebut, karenanya, juga lebih dari konstitusionalisme: ia mensyaratkan bahwa semua hukum mengacu pada prinsip-prinsip tertentu… Aturan hukum itu karenanya bukanlah aturan hukum, tapi sebuah aturan mengenai apa hukum itu seharusnya…”

image

Hayek punya harapan yang tinggi pada The Constitution of Liberty, yang diterbitkan pada Februari 1960, yang dilihatnya sebagai karya terbaiknya. Sementara dia mendapatkan review dalam penerbitan-penerbitan yang bersahabat, seperti Wall Street Journal, Chicago Tribune, Fortune dan kolom Henry Hazlitt dalam Newsweek, buku itu secara umum diabaikan. Hayek menjadi depresi.

Pada April 1962, Volker Fund dibubarkan, dan Hayek kuatir bahwa itu berarti tidak ada lagi pendapatan untuk mengajar di Universitas Chicago. Karena itu, saat dia mendapatkan tawaran untuk mengajar di Universitas Freiburg, Jerman barat daya, dia menerima tawaran itu. Hayek mendorong pemikirannya melampaui The Constitution of Liberty, tapi dia sakit dan tidak bisa banyak menulis. Pada 1969, dia menjadi profesor tamu di Universitas Salzburg, Austria karena dekat dengan keluarga istrinya di Wina, dan fakultas hukum membeli perpustakaannya sembari mengizinkannya untuk terus menggunakannya.

Lima tahun kemudian, panitia nominasi Hadiah Nobel ingin menganugerahi sosialis Swedia Gunnar Myrdal, tapi mereka memutuskan bahwa akan lebih baik jika mereka menjadi lebih berimbang dan membagi hadiah itu dengan seseorang yang menganut pandangan berbeda. Mereka menunjuk Hayek. Hadiah Nobel mengangkat semangatnya, dan seperti yang diamati oleh Daniel Yergin dan Joseph Stanislaw dalam The Commanding Heights (1998), “mendokumentasikan awal mula dari perubahan besar pada pusat gravitasi intelektual dalam profesi ekonomi menuju perbaikan kepercayan atas pasar, bahkan pembaharuan keyakinan terhadap keunggulan pasar atas cara lain dalam mengatur aktivitas ekonomi.”

Hayek menyelesaikan triloginya yang lama terbengkalai Law, Legislation and Liberty, yang terdiri dari Rules and Order (1973), The Mirage of Social Justice (1976) dan The Political Order of a Free People (1979). Dia mengatribusi banyak dari kemunduran kebebasan pada kekeliruan kepercayaan “bahwa kendali demokratis pemerintah membuat setiap pengawal lain terhadap penggunaan kekuasaan secara semena-mena menjadi tidak perlu.” Dia menyerang “keadilan sosial” sebagai gagasan samar yang bertujuan membenarkan ekspansi tanpa akhir dari kekuasaan pemerintah selama abad ke-20. Konsekuensi yang paling mencelakakan tampak di negara-negara yang mengadopsi pemerintahan parlementer dan tidak memiliki tradisi konstitusional yang membatasi, setidaknya pada derajat tertentu, apa yang bisa diakibatkan pemerintah kepada masyarakat.

Pada 1976, Hayek menghasilkan The Denationalization of Money, laporan bagi Institute of Economic Affairs (London), yang menantang apa yang disebutnya “sumber dan akar dari semua kejahatan moneter, monopoli pemerintah atas isu dan kontrol uang.” Dia mencontohkan bahwa lembaga-lembaga privat akan melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam menghindari inflasi atau depresi karena mereka diawasi oleh para pesaing, pertukaran mata uang dan pers keuangan.

Tulisan-tulisan Hayek mengilhami Ronald Reagan di Amerika Serikat dan Margaret Thatcher di Inggris Raya. Hayek dipuja-puja oleh mereka yang menderita di bawah tirani sosialisme di kawasan Eropa Timur, Uni Soviet dan China. Karya terakhir Hayek adalah The Fatal Conceit, the Errors of Socialism (1988), secara substansial disunting oleh William Bartley III yang dipilih Hayek untuk menulis biografinya dan mengumpulkan tulisan-tulisannya. Bartley meninggal tahun 1990, biografi tersebut tidak pernah ditulis, tapi rekan Bartley, Stephen Kresge,  bisa mengarahkan penerbitan kumpulan tulisan Hayek.

Sekalipun berpikiran jernih hingga akhir hayatnya, Hayek tidak bisa menulis apapun setelah sekitar tahun 1985. Di samping kelemahan karena usia tua, dia juga kerap diserang radang paru-paru. Dia jarang meninggalkan apartemen lantai tiganya di rumah beton besar di Urachstrasse 27, Freiburg, Jerman Barat, dekat Hutan Hitam. Dia kembali ke Freiberg pada 1977. Penulis biografinya Ebenstein melaporkan, “Perpustakaannya memuat sekitar 4000 volume buku dalam sejumlah disiplin ilmu, termasuk ekonomi, psikolgi, antropologi, dan filsafat politik. Perabotannya tidak baru, interiornya juga tidak dicat lagi… Di mejanya ada gambar istri keduanya yang tampak sebagai perempuan muda yang cantik di Wina berbilang tahun sebelumnya.”

Hayek meninggal pada hari Senin, 23 Maret 1992 di apartemennya. Usianya 92 tahun. Sekitar seratus orang menghadiri pemakamannya pada 4 April, yang diarahkan oleh Romo Johannes Schasching. Hayek dikuburkan di pemakaman berbukit Neustift am Wald, melewati Hutan Wina.

Hayek hidup cukup panjang untuk melihat Republik Sosialis Uni Soviet lenyap dari peta. Dia telah menekankan, seperti Mises sebelum dia, bahwa sosialisme akan memiskinkan jutaan orang – dan dia bertahan dalam pandangan itu. Dia dengan benar mengingatkan bahwa sosialisme pada puncaknya berarti penindasan, perbudakan dan pembunuhan massal. Mungkin lebih dari siapapun dia telah menunjukkan bahwa masyarakat bebas, bukan perencana pemerintah, adalah kunci menuju peradaban yang maju.

Seperti yang ditulis John Cassidy di Newyorker 7 Februari 2000, “Jika ada dua hal yang kebanyakan orang bisa bersetuju pada hari-hari ini, maka itu adalah bahwa kapitalisme pasar bebas merupakan satu-satunya cara praktis untuk mengatur masyarakat modern dan bahwa kunci bagi pertumbuhan ekonomi adalah ‘pengetahuan.’ Kepercayaan ini begitu merata sehingga muasalnya jarang diselidiki, yang cukup mengejutkan, kedua pernyataan itu bisa dilacak balik, dalam sebagian besarnya, pada satu orang, Friedrich August von Hayek.” Keberanian moralnya dan wawasannya yang cemerlang menjernihkan ide-ide yang membentuk nasib kita.

Dicetak ulang dari The Triumph of Liberty oleh Jim Powell.

diterjemahkan oleh amato dari http://www.libertarianism.org/publications/essays/worst-top-biography-friedrich-hayek

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s