Kritik Keynes atas Ekonometrika Mengejutkan Bagusnya

oleh Karl-Friedrich Israel

image
Jan Tinbergen

Dalam artikel sebelumnya kita telah melihat secara ringkas visi Ragnar Frisch (1895–1973) mengenai pembangunan model ekonometrika. Seperti yang telah disebutkan, Frisch adalah ekonom pertama yang dipilih di atas Mises untuk memenangkan Hadiah Nobel tahun 1969. Pada faktanya, ada ekonom kedua pada tahun yang sama. Frisch memenangkan hadiah itu bersama-sama dengan ekonom Belanda Jan Tinbergen (1903–1994), yang menerapkan ekonometrika Frischian untuk pertama kalinya dalam model makro skala besar pada akhir tahun 1930an.

Dalam volume pertama investigasinya terhadap siklus bisnis yang ditugaskan oleh Liga Bangsa-Bangsa, berjudul Statistical Testing of Business Cycle Theories, terbit tahun 1939, Tinbergen membebaskan ahli statistika dan ekonometrika dari tanggungjawab mereka dan menjelaskan:

Bagian di mana seorang ahli statistika bisa bermain dalam proses analisa ini tidak boleh disalahpahami. Teori-teori yang dia gunakan untuk menguji diberikan padanya oleh ekonom, dan dengan sang ekonom tanggung jawab atas hal itu mesti dibebankan; karena tidak ada tes statistika yang bisa membuktikan kebenaran suatu teori.

Meskipun para ekonom klasik dan Austrian setuju bahwa teori ekonomi tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara empiris, mereka tidak segampang itu membiarkan ahli statistika lari dari tanggung jawab. Malahan, ahli ekonometrika dan statistika punya tanggung jawab tertentu bagi teori-teori ekonomi yang akan diterima, terutama jika kita percaya, seperti Tinbergen, bahwa teori-teori itu bisa dibuktikan “keliru, atau setidaknya tak lengkap, dengan menunjukkan bahwa teori itu tidak mencakup serangkaian fakta tertentu.”

Ini adalah klaim yang janggal, karena secara praktis semua teori itu tidak lengkap, tapi itu tidak berarti bahwa teori tersebut keliru. Jadi jelas ada dua rangkap bahaya di sini: Sebuah teori yang salah mungkin saja tidak bisa dibuktikan salah, sekalipun pada prinsipnya hal itu bisa dilakukan, dan teori yang benar mungkin saja “dibuktikan salah” secara keliru, karena teori bersangkutan tidak lengkap seperti tidak memperhitungkan serangkaian fakta tertentu. Seorang ahli ekonometrika tentu saja harus bertanggungjawab atas kekeliruan ini.

Faktanya, aplikasi metode-metode statistika guna melakukan falsifikasi terhadap teori-teori ekonomi tidak bisa dibenarkan secara tanpa syarat. Tergantung pada jenis suatu teori, ada sejumlah syarat yang diperlukan, yang biasanya tidak cukup dikenali, atau bahkan dengan sengaja diabaikan oleh para ahli ekonometrika modern.

image
John Maynard Keynes

Yang menarik, dalam sebuah review yang diterbitkan di The Economic Journal tahun 1939, “Sang Guru” sendiri, Lord Keynes, memberikan kritik menyeluruh terhadap karya Tinbergen dan memberikan daftar dari sejumlah syarat ini. Setiap ekonom yang jujur harus mengakui bahwa mereka tidak merasa puas dengan mayoritas luar biasa dari problem ekonomi, khususnya problem-problem rumit seperti siklus bisnis.

Kelengkapan: Upaya Tinbergen untuk melakukan kuantifikasi yang mencakup beragam faktor yang menyumbang pada siklus bisnis. Keynes menunjukkan bahwa kita harus memiliki daftar lengkap dari semua faktor yang relevan untuk memungkinkan upaya tersebut. Adalah jelas bahwa saat satu faktor hilang dan tidak diperhitungkan, perubahan yang disebabkan oleh faktor ini bisa secara keliru ditafsirkan sebagai hasil dari faktor-faktor yang diperhitungkan.

Yang paling akhir, ekonomi harus bersifat “homogen” atas rentang waktu yang dimasukkan dalam pertimbangan, yakni, faktor-faktor yang diabaikan harus tetap konstan agar mereka tidak mengganti temuan-temuan empiris. Akan tetapi, tidak ada cara untuk mencapai kekonstanan ini.

Keterukuran: Semua faktor yang relevan pada prinsipnya harus diukur, dan kita pada praktiknya harus “memiliki pengetahuan statistika yang memadai untuk melakukan pengukuran.” Keynes menuntut “faktor-faktor politik, sosial dan psikologi, termasuk juga hal-hal seperti kebijakan pemerintah, kemajuan penemuan dan status ekspektasi.” Unsur-unsur ini pastinya memiliki dampak pada siklus bisnis, tapi apakah semua itu bisa dikuantifikasi dan diukur? Dan jika bisa, apakah kita punya cara untuk mendapatkan informasi statistika yang bisa diandalkan mengenai semua itu? Mungkin tidak.

Independensi: Selanjutnya, Keynes menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut di atas harus bersifat independen, kalau tidak kita akan menghadapi resiko menemukan korelasi “lancung.” Tinbergen memang sadar akan masalah ini dan mengatakan pada satu sisi bahwa “kita harus berhati-hati.” Tapi Keynes bertanya, “Apakah dia berhati-hati?” Tidak juga. Sekalipun Tinbergen sendiri menyebutkan adanya masalah itu, dia melanjutkan tanpa membahas bagaimana memecahkannya.

Linearitas: Problem keempat pada apa Keynes mengarahkan perhatian kita adalah linearitas. Tinbergen hanya menyinggung soal hubungan linear. Tentu saja persamaan non-linear sulit untuk ditangani pada saat itu dan komputer belum lagi dikembangkan, tapi ini tidak mengubah fakta bahwa para ahli ekonometrika di sekeliling Tinbergen boleh melakukan falsifikasi atas teori-teori ekonomi dengan asumsi kasar dan sangat simplistis bahwa hanya hubungan linear antara variabel-variabel relevan yang mungkin. Seperti yang ditulis Keynes:

Adalah postulat yang sangat drastis dan biasanya mustahil untuk mengharapkan bahwa semua kekuatan ekonomi memiliki ciri ini, menghasilkan perubahan independen dalam sebuah fenomena di bawah penyelidikan yang secara langsung bersifat proporsional terhadap perubahan-perubahan dalam dirinya sendiri; ini, tentu saja, konyol.

Keacakan: Lebih lanjut, Tinbergen menambahkan jeda waktu dan tren pada beberapa variabel tertentu dalam sistemnya. Ini tentunya terjadi dengan lebih atau kurang acak, dalam sebuah proses coba dan gagal, “bisa dibilang, dia tidak sabaran hingga menemukan jeda waktu yang tidak cocok dengan teori yang diujinya dan dengan perkiraan dari metodenya.” Tidak ada jaminan bahwa jeda waktu dan semua tren ini tidak menipu ahli ekonometrika dan para pemirsanya menyangkut kekurangan serius dalam keseluruhan model tersebut.

Meskipun kita harus mengakui bahwa Tinbergen sangat berhati-hati untuk tidak terlalu banyak mengklaim, keseluruhan misinya tetap saja merupakan upaya yang sia-sia. Keynes menyimpulkan:

Saya tidak menemukan ada ucapan di mana Prof. Tinbergen membuat klaim induktif. Dia tampak hanya berurusan dengan deskripsi statistika. Akan tetapi tujuan utama yang digariskan oleh Mr. Loveday dalam prakata buku ini jelas bersifat induktif. Jika metodenya tidak bisa membenarkan atau menyanggah sebuah teori kualitatif, dan jika metode ini juga tidak bisa memberikan tuntunan kuantitatif ke masa depan, apakah ia layak? Karena, pastinya, metode ini juga bukan cara yang sangat jelas dalam menggambarkan masa lalu.

Keynes mengklaim bahwa pendekatan Tinbergen jika dipikirkan secara logis akan membawa pada “inkonsistensi yang membinasakan.” Dia mengajukan perbandingan yang lebih cantik:

Pendekatan ini menjadi seperti teka-teki bagi anak-anak di mana kamu menuliskan usiamu, mengalikan, menambah ini dan itu, membagi dengan sesuatu yang lain, dan pada akhirnya berakhir dengan angka Setan dalam Pewahyuan.

Murray Rothbard pernah menulis: “Ada satu hal yang baik mengenai Marx: dia bukan seorang Keynesian.” Tampaknya ada juga satu hal yang baik mengenai Keynes: dia bukan seorang ahli ekonometrika dalam arti modernnya.

Diterjemahkan oleh amato dari https://mises.org/blog/keynes%E2%80%99s-critique-econometrics-surprisingly-good

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s