Oase Kebebasan di Timur Indonesia

oleh Muhammad Husni Thamrin

ana.jpg

Sulawesi Utara tak hanya menyimpan keindahan Kota Manado dengan Bunakennya atau pluralisme, kerukunan beragama yang terefleksi menjalar hingga kota Tondano. Ada satu keindahan lain dalam tradisi intelektual yang dimiliki anak anak muda Manado, saat mendiskusikan berbagai perkembangan politik, ekonomi maupun sosial. Kehausan intelektual dan tradisi kebebasan berpikir tercermin dalam setiap diskusi, seperti yang acap terjadi di Jalan Roda atau dikenal dengan sebutan JaRod , di kota Manado. Berdiskusi di JaRod adalah menikmati secangkir kopi hitam kental, mendengarkan celoteh para pejabat, mahasiswa, pelajar, aktivis atau bahkan bapak rumah tangga, yang singgah disana bertukar pikiran. Diskusi bisa beragam topik, mulai dari harga cabe (cabe menjadi komoditi penting di Manado karena diperlukan dlaam campuran makanan khas Manado), atau komoditi lain yang merangkak naik, hingga persoalan korupsi dan pemilihan kepala daerah. Diskusi politik tak hanya terjadi di JaRod, tetapi juga di beberapa kedai kopi lain yang tersebar di kota Manado. Menyeruput kopi hitam khas Manado, kopi Kawangkoan, tak lengkap jika tak disertai diskusi tentang politik.

Kelompok-kelompok diskusi tumbuh dengan subur. Dalam beberapa bulan terakhir muncul sebuah nama kelompok diskusi yang menarik di kota Manado, Mises Club Indonesia (MCI). Nama Mises mengingatkan pada nama seorang pemikir Liberal asal Autria, Ludwig von Mises. Tak banyak yang mendalami pemikiran Mises di Indonesia. Kemunculan nama Mises sebagai sebuah nama kelompok dskusi di Manado, Sulawesi Utara, menjadi sesuatu yang menarik.

Keterangan yang diberikan pada satu blog yang memuat banyak tulisan dan terjemahan artikel tulisan Ludwig von Mises, F.A. Hayek atau beberapa pemikir liberal lain, tentang lembaga mereka, sangat sederhana, “Mises Club Indonesia adalah sebuah klub kajian ekonomi yang utamanya didasarkan pada wawasan ekonomi Mazhab Austria. Menurut Amato Assegaf, salah seorang pendirinya, MCI berupaya memperkenalkan gagasan ekonomi pasar bebas pada publik Manado dan sekitarnya. Sebagai sebuah lembaga, MCI berada di bawah Amagi Indonesia, sebuah NGO Libertarian yang berpusat di Manado, Sulawesi Utara.

Sederhana namun memberi kejelasan kuat Mises Club Indonesia, yang memilih meyerbarkan gagasan Libertarian, terutama pemikiran Ludwig von Mises atau Austrian School.

Amato Assegaf mengatakan MCI didirikan pada tanggal 28 Januari 2016, di rumahnya di Manado, Sulawesi Utara, yang memang biasa dipakai berdiskusi aktivis mahasiswa maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM). Ide pendirian Mises Club Indonesia diawali dari serangkain diskusi pada bulan Desember 2015, dalam menyikapi rencana pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kota Manado, tentang berbagai tokoh yang akan muncul dalam persaingan Pilkada serta program atau kebijakan yang kelak akan dijalankan oleh walikota terpilih. Dalam prakteknya rangkaian diskusi tersebut tak hanya membicarakan pilkada Kota Manado tetapi juga potensi kepeminpinan dan kebijakan gubernur Sulawesi yang juga akan dipilih melalui pemilhan gubernur, serentak dengan pemilihan bupati dan walikota.

Pada rangkaian diskusi di bulan Desember 2015 pembahasan berkisar pada persoalan ekonomi, tentang apa yang telah diterapkan, sedang dilaksanakan dan apa yang akan menjadi tantangan di masa depan terkait persoalan ekonomi. Tema utama lain terkait persoalan pendidikan serta apa yang dapat menjadi kontribusi Mises Club Indonesia saat terlibat dalam pembahasan persoalan-persoalan ekonomi, politik, pendidikan mauapun sosial. Disepakati pula oleh para peserta yang mengikuti diskusi agar sebagai kelompok mereka dapat muncul memberikan kontribusi dan warna pemikiran.

Nama “Mises Club” dipilih oleh Amato Assegaf kerena ia ingin sebagai kelompok mereka berkosentrasi berkonsentrasi pada gagasan ekonomi Austria. Lalu Juan Mahaganti yang juga menjadi salah satu pendiri MCI menambahkan kata “Indonesia” agar sesuai dengan kodratnya sebagai bagian dari “Amagi Indonesia” yang telah dirikan beberapa tahun sebelumnya.

Amato Assegaf dan Juan Mahaganti bukan orang lain bagi Friedrich Naumann Stiftung for Freedom – Indonesia. Dalam beberapa kali workshop dan seminar di Manado yang diadakan, baik terkait dengan gagasan-gagasan Liberal maupun persoalan perubahan iklim, kedua selalu menjadi narasumber.

Juan Mahaganti adalah salah satu peserta workshop Liberalisme dan Ekonomi Pasar yang diadakan pertama kali oleh FNF Indonesia di Manado. Ia kemudian sempat pula dikirim untuk mengikuti Akademi for Leadership IAF, di Gummersbach, Jerman, yang merupakan workshop rutin yang diadakan oleh Friedrich Naumann Stiftung dan dihadiri oleh peserta yang diseleksi oleh kantor kantor FNF yang ada diberbagai belahan dunia. Juan Mahaganti pada sebuah diskusi online, jauh sebelum saya mengenalnya, suatu saat menyodorkan draft terjemahan leaflet I Pencil yang ditulis oleh oleh Lawrence W. Reed, yang kemudian diterbitkan oleh FNF Indonesia dalam bahasa Indonesia.

Pertemuan saya dengan Amato Assegaf terjadi pada workshop Perubahan Iklim dan Ide Kebebasan yang diselenggarakan di Manado pada akhir April 2012, bekerjasama dengan Freedom Institute.Tak ada perdebatan atau diskusi tentang Liberlisme, semata kita membicarakan tentang perubahan iklim, yang masih ia ragukan ada memiliki keterkaitan dengan persoalan gagasan Liberal diawalnya. Amato menjadi motor kegairahan diskusi dalam workshop tersebut.

Di ujung acara Amato memaparkan perjalanan pemikirannya yang semula banyak dipengaruhi gagasan Kiri hingga kemudian ia mempelajari tentang ekonomi pasar dan Liberalisme. Diujung acara workshop ia menyodorkan sebuah draft tulisannya yang berjudul “Merenungkan Libertarianisme” yang banyak menuturkan renungannya tentang ide-ide kebebasan liberal dan perbandingan dengan pemehaman Kiri yang ia pelajari sebelumnya. Tulisan tersebut diterbitkan FNF pada bulan Desember 2012 dengan judul yang sama.

Kelahiran Mises Club Indonesia yang berdiri di Manado menandai sebuah catatan penting bahwa ide kebebasan, Liberalisme, yang semula yang berkutat di Jakarta atau pulau Jawa, mulai bersemi dan menemukan oasenya di belahan Timur Indonesia.

Tulisan ini pertama kali dimuat di
http://www.fnf-indonesia.org/oase-kebebasan-di-timur-indonesia/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s