Menos Marx Mais Mises

Sedikit Pikiran Soal PLN buat Ances dan Para Sobat Lainnya

oleh Amato Assagaf

image

Besarnya negara di dalam kepala menjadi jawaban satu-satunya bagi kebencian kita yang janggal terhadap usaha bebas, kekuatan kaum entrepreneur, dan kemujaraban pasar. Itulah kenapa Rothbard bisa melihat kebaikan Marx semata karena dia bukan seorang Keynesian.

Ekonomi Marxis adalah omong kosong besar justru karena model kritiknya terhadap negara keliru melihat negara sebagai entitas netral. Hasilnya adalah “kediktatoran proletariat” sebagai jembatan menuju kehidupan tanpa negara. Sebentuk utopia yang menyedihkan justru karena citra netralitas negara dibatalkan sendiri oleh teori yang sama yang mengasumsikannya. Dan ekonomi Marxis, kita tahu, menjadi “ekonomi antri roti.”

Lalu jembatan itu menjadi abadi. Negara kembali menang dan kebebasan, daulat manusia, sekali lagi disingkirkan. Di tingkat teori, kebebasan dianggap mustahil dan kenyataan menjadi melulu berisi negara – tentunya dengan sekian akrobat filosofis. Di tingkat praktek, kita menyaksikan dari Uni Soviet yang ambruk hingga Venezuela yang papa – kaum Marxis punya ketahanan ideologis yang sangat hebat untuk tidak terlalu peduli pada kenyataan di hadapan teori-teori mereka.

Keynesianisme muncul dengan cara memodifikasi omong kosong itu dan mempersembahkannya dalam sebuah model sosialisme yang lebih pragmatis. Negara (yang terstruktur secara keliru dalam benak Marx dan nyaris semua pemikir Marxis) direhabilitasi secara teoritis dan diberikan tugas yang semula dibayangkan Marx harus dipikul oleh kaum proletar. Kita tahu, Lenin telah lebih dulu membuatnya sedikit lebih praktis dengan konsepsinya mengenai “politbiro” sebagai perwakilan sadar kaum proletar.

Keynes tentu saja tidak percaya dengan segala macam teori mengenai kediktatoran proletariat. Tapi apa yang dia wariskan lewat model ekonominya adalah sisi yang jauh lebih seram dari kemungkinan terlibatnya negara di dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Kita kemudian berhadapan dengan model-model “kapitalisme” yang jauh dari filosofi dasarnya. Saya menyebutnya kapitalisme tanpa laissez faire.

Swastanisasi PLN adalah gagasan yang gagal paham terhadap kondisi perekonomian kita secara umum jika kita memikirkannya sebagai sejenis penyerahan kedaulatan. Setelah gagal diurus negara (bayangkan negara sebagai lembaga monolitik) sekarang akan diurus kapitalis (bayangkan kapitalis sebagai lembaga yang juga monolitik). Bayang membayangkan seperti ini inheren dalam gagasan Marxisme maupun Keynesianisme. Karena, seperti yang sudah diisyaratkan di atas, semua lembaga itu (negara, kapitalis, juga rakyat) bersifat monolitik di dalam kepala mereka.

Problem serius kita dengan PLN bukanlah siapa yang mengurus soal listrik tapi siapa yang mengatur harga listrik. Kendali harga yang dibuat pemerintah adalah hasil kejeniusan Keynesian, soal mengurus PLN adalah cara berpikir Marxis. Yang bukan Keynesian apalagi Marxis tahu benar bahwa siapapun yang mengurus (termasuk swasta) hanya akan kembali menjebak kita dalam lingkaran setan persoalan listrik selama harga listrik bukan merupakan hasil dari apa yang dalam ilmu ekonomi disebut sebagai persilangan antara permintaan dan penawaran.

Jadi, kita tidak harus berpikir ala Marxis atawa Keynesian yang sama-sama melihat negara sebagai jawaban atas semua persoalan (dengan para kapitalis sebagai dalang segala bencana). Kita harus berpikir dengan kepala yang merdeka untuk melepaskan kendali harga atas listrik yang selama ini dilakukan pemerintah. Lalu menyerahkan urusan itu pada “taman bagi seribu bunga” yang kita sebut sebagai pasar. Ini adalah ungkapan ketua Mao yang diterjemahkan ketua Deng menjadi apa yang sekarang kita sebut sebagai kapitalisme China. “Super,” kata Mario Teguh.

Wow, itu kan nama lain dari swastanisasi PLN? Tidak. Itu nama lain dari revolusi laissez faire. Pasar adalah lembaga bagi semua orang untuk mengurus dirinya sendiri dengan menciptakan nilai bagi kebutuhan semua orang lainnya. Di dalamnya, sebuah tatanan terbentuk dari hasil tindakan manusia tapi bukan dari rancangan mereka. Di dalam tatanan ini, kita tidak akan melihat hanya satu perusahaan listrik tapi banyak perusahaan listrik yang satu sama lain saling bersaing untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat pengguna listrik.

Masih tidak yakin? Coba bayangkan air yang kita minum. Kalau tidak salah, sekira awal tahun 80an gagasan soal air minum swasta ditanggapi dengan ketakutan yang aneh. “Para kapitalis akan merebut kedaulatan kita untuk minum. Pemerintah harus turun tangan.” Pada tahun 2000an, orang yang mengatakan ini akan memarahi anaknya jika minum air “buatan” pemerintah (air kran dari PAM). Bahkan untuk mandi, mencuci, dan sejenisnya kita lebih suka menggunakan pompa buatan swasta dan kedaulatan rakyat tetap aman-aman saja.

Maka bisa kita lihat bahwa kebencian terhadap usaha bebas, kekuatan kaum entrepreneur, dan kemujaraban pasar itu sangat janggal. Ia sesungguhnya lahir dari sejenis paranoia bentukan ideologi etatisme terhadap efektivitas tatanan spontan. Ideologi yang bersembunyi di dalam kepala para Marxis dan menemukan ejawantahnya yang jenius lewat teori-teori ekonomi Keynesian, serta berbagai gagasan ekonomi intervensionis lainnya.

Pernahkah Anda mendengar ada “teori” yang membagi “kelas” dalam masyarakat menjadi “pengusaha” dan “rakyat” di mana, dalam teori ini, “negara” muncul dengan kewajiban untuk membela “rakyat”? Ini adalah versi Keynesianisme populer dari Marxisme. Dalam “teori” ini, menjadi “pengusaha” sama artinya dengan menjadi orang terkutuk.

Makanya tidak heran jika ada sementara kalangan yang mengalami euforia untuk menjadi PNS (menjadi bagian dari negara) atau mengejar karir sebagai anggota dewan (menjadi bagian dari rakyat) dibandingkan menjadi entrepreneur yang, amit-amit, bisa berarti menjadi pengusaha. Ketika menjadi pembicara dalam sebuah acara, seorang mahasiswi memohon kritik saya atas “kekeliruannya” menjadi entrepreneur. Busyet!

Lalu Anda masih mau mengatakan bahwa gagasan untuk menentang swastanisasi PLN lahir dari pemikiran yang mendalam? Hehehe… itu adalah hasil kebencian yang dipicu oleh kepanikan akibat ketakutan terhadap logika tatanan spontan. Marx mengalami “penyakit” itu, juga Keynes. Adapun Ludwig von Mises mengajari kita untuk menyembuhkannya. Di Brazil, hari ini, obatnya bernama “Menos Marx Mais Mises.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s