Akan Mampuskah Keynes?

Banyak Ekonom Konservatif yang Salah Memperhitungkan Kegigihan Keynesianisme

oleh Mark Skousen

“Disinilah [The General Theory] Keynes menemukan Keynesianisme, menyanggah teori laissez faire klasik mengenai pasar yang menyesuaikan diri, mengatur diri, mencukupi diri…”

—Arthur Schlesinger, Jr.

New York Times Book Review

(23 Januari 1994)

9272681538_3a2b091de8_b.jpg
Mark Skousen

Ilmu ekonomi Keynesian seharusnya sudah mampus lama. Ludwig von Mises, salah seorang kritikus utama Keynes, berpikir bahwa Keynesianisme sudah mati tahun 1948. “Apa yang terjadi hari ini di Amerika Serikat adalah kegagalan akhir Keynesianisme. Tidak ada keraguan bahwa publik Amerika telah menjauh dari gagasandan slogan-slogan Keynesian.”[1] Mises, Hayek, dan para ekonom pasar bebas lain berpikir The General Theory adalah sebuah “risalah zaman itu,” bukan sesuatu yang revolusioner atau permanen. Oleh karena itu, banyak ekonom konservatif yang salah memperhitungkan kegigihan Keynesianisme.

Apa yang menjadi lebih aneh lagi adalah bahwa setiap ajaran teoritis Keynesianisme sekarang sudah disanggah. Prosesnya butuh waktu beberapa dekade. Arthur Pigou pertama kali membantah hipotesa “jebakan likuiditas” dengan menunjukkan bahwa deflasi meningkatkan nilai real kepemilikan tunai, jadi mendorong permintaan potensial selama depresi. Friedrich Hayek menunjukkan bahwa ilmu ekonomi Keynesian didasarkan pada “kesalahan kritis,” yaitu bahwa aktivitas ekonomi semata hanya fungsi dari permintaan agregat akhir, padahal yang benar adalah pekerjaan dan produksi didasarkan pada keseimbangan halus antara nvestasi dan konsumsi, di mana suku bunga dan entrepreneurship memainkan peran penting. W. H. Hutt memberikan serangan yang menghancurkan pada prinsip akselerator dan juga menunjukkan bahwa kebijakan upah tinggi yang dibuat pemerintah menghasilkan kekurangan pekerjaan yang signifikan.[2]

Henry Hazlitt membuktikan bahwa momok Keynesian berupa pemotongan upah selama masa kemerosotan sesungguhnya bisa meningkatkan pendapatan upah dan mengakhiri resesi jika, sebagai hasil pemotongan upah, lebih banyak pekerja diterima atau atau para karyawan bekerja lebih lama. Murray Rothbard mengkritik tesis stagnasi, penggandaan, dan menunjukkan ketidakstabilan inheren dari pengukuran inflasioner oleh pemerintah.

Milton Friedman secara efektif menghantam argumen Keynesian bahwa kebijakan moneter tidak efektif selama masa kemerosotan. Dengan riset yang telaten, Friedman menunjukkan bahwa Federal Reserve membuat suplai uang jatuh hingga sepertiga selama 1929-32, membuktikan secara konklusif bahwa pemerintah, bukan pasar bebas, yang paling bertanggungjawab akan Depresi Besar. Friedman juga meruntuhkan “fungsi konsumsi” Keynes, yang memberikan dukungan teoritis bagi pajak progresif, dan memunculkan keraguan serius terhadap kurva Phillips.

Robert Higgs, dalam suatu telaah yang diteliti secara brilian mengenai ekonomi Amerika selama Perang Dunia II, menunjukkan bahwa pengeluaran defisit tidak memiliki efek menguntungkan seperti yang umum dipercaya, dan hanya setelah perang kemakmuran yang sesungguhnya kembali.[3]

Virus yang Gigih

Akan tetapi, mengabaikan semua upaya untuk mencerabut “Ilmu Ekonomi Baru” ini, Keynesianisme tetap bertahan. Hari ini dalam dunia akademis ada kaum post-Keynesian, neo-Keynesian, dan Keynesian Baru. Kebanyakan ekonom dan pemimpin pemerintahan di Barat masih percaya bahwa pengeluaran defisit diperlukan dan bermanfaat selama resesi. Media berkeras kepala dalam gagasan keliru mereka bahwa pengeluaran komsumtif menggerakkan ekonomi dan upaya untuk menabung bisa melemahkan. (Bussines Week terbitan 14 February 1994 memuat komentar mengenai pemotongan pajak yang diusulkan di Jepang: “Resikonya adalah konsumen, yang masih mabuk dari go-go tahun 1980an, akan membuang uang baru mereka ke dalam rekening tabungan dan dengan begitu menghantam pemulihan.”) Sang Panjaga Tua, seperti yang diwakili oleh pernyataan Arthur Schlesinger, Jr., pada awal artikel ini, terus mempengaruhi publik untuk percaya bahwa pemerintah yang besar esensial untuk menstabilkan kapitalisme pasar bebas. Mereka percaya bahwa Keynesianisme merupakan sebuah “revolusi permanen,” sebagaimana Mark Blaug menyebutnya.

Stabilitas Ekonomi Pasar Bebas

Tapi Schlesinger—dan Keynes—telah dibuktikan keliru. Yang paling baik dan paling cemerlang dari para ekonom telah menunjukkan dengan jernih bahwa suatu ekonomi bisa berfungsi, berkembang, dan maju tanpa pengangguran, inflasi, dan resesi yang serius jika (a) kebijakan moneter stabil dan genah, (b) peran pemerintah bisa dipertanggungjawabkan secara fiskal dan terbatas sebagai wasit, bukan sebagai pemain, (c) pajak, kontrol, dan regulasi tetap minimum dan (d) orang-orang bebas untuk mengejar kepentingan diri mereka sendiri. Revolusi tandingan pasar bebas ini telah menjadi paling populer di pasar yang baru tumbuh di Amerika Latin, Asia, Afrika, dan Eropa, di mana pemerintah meramping, memprivatisasi, memotong pajak, dan mengadopsi kebijakan fiskal dan moneter yang terkendali. Sebagai hasilnya, mereka berkembang seperti tak pernah sebelumnya.

Robert Lucas, Jr., menyimpulkan dengan rapi: “pelajaran utama teori ekonomi adalah proposisi bahwa ekonomi yang kompetitif, dibiarkan pada dirinya sendiri, akan melakukan pekerjaan yang baik dalam mengalokasikan sumber daya.”[4]

Sayangnya, mistik Keynesian merupakan godaan yang luar biasa bagi para pencari kekuasaan dan para politisi yang dengki. Fondasi dari Rumah yang Dibangun Keynes sedang runtuh, tapi para pekerja bertekad untuk memperbaikinya bukan memusnahkannya dan menggantinya dengan Rumah yang Dibangun Mises. Karena itu, saya menduga bahwa Keynesianisme masih akan ada hingga bertahun-tahun ke depan.

Meski demikian, janganlah kita menyerah. Dalam era baru kebebasan politik dan pasar global ini, tidak akan pernah ada kesempatan yang lebih baik untuk mempromosikan kebajikan usaha bebas dan untuk mengajarkan pada generasi yang akan datang bahwa pasar bebas yang berfungsi dan pemerintah tidak. Kita akan tahu kita telah menang saat Salib Keynesian teleah diganti dengan Segi Tiga Hayekian dalam Ekonomi 101.

  1. Ludwig von Mises, “Stones into Bread, the Keynesian Miracle,” Planning for Freedom,4th ed. (Spring Mills, Pa.: Libertarian Press, 1980 [1952]), hal. 62.
  2. Out of Work,oleh Richard K. Vedder dan Lowell E. Gallaway (New York: Holmes & Meier, 1993), mengkonfirmasi tesis Hutt dalam Depresi Besar dan di luar itu: Upah minimum, privilese legal bagi serikat kerja, legislasi hak-hak sipil, kompensasi pengangguran, dan kesejahteraan semuanya telah memainkan peran penting dalam menghasilkan pengangguran. Lihat juga Hans F. Sennholz,The Politics of Unemployment(Spring Mills, Pa.: Libertarian Press, 1987).
  3. Robert Higgs, “Wartime Prosperity? A Reassessment of the U.S. Economy in the 1940s,” The Journal of Economic History(March, 1992), hal. 41-60. Untuk review atas semua argumen anti-Keynesian, lihat volume suntingan saya, Dissent on Keynes: A Critical Appraisal of Keynesian Economics(New York: Praeger, 1992).
  4. Robert E. Lucas, Jr., “The Death of Keynes,” in Halistones, ed., Viewpoints on Supply-Side Economics(Richmond: Robert F. Dames, 1982), hal. 4.

diterjemahkan oleh amato dari https://fee.org/articles/will-keynes-ever-die/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s