Henry Hazlitt dan Kebangkrutan Ilmu Ekonomi Keynesian

Hazlitt Membantu Merobohkan Pemikiran Asli dan Primitif Keynesian

oleh Richard M. Ebeling

 

imagenbanner.jpg
Henry Hazlitt

Selama empat dekade, dari pertengahan 1930an hingga 1970an, ilmu ekonomi Keynesian nyaris memonopoli kebijakan ekonomi di Amerika Serikat dan seluruh dunia. “Ilmu ekonomi baru,” sebagaimana ia disebut, berupaya menjamin stabilitas ekonomi umat manusia, lapangan kerja penuh, dan kemakmuran material – semua lewat manajemen pemerintahan yang arif atas kebijakan moneter dan fiskal. Begitu dominan pandangan ini sehingga nanti di tahun 1959 buku panjang pertama yang menyanggah gagasan-gagasan John Maynard Keynes muncul: karya Henry Hazlitt The Failure of the “New Economics”: An Analysis of the Keynesian Fallacies. [1]

Keynes (1883–1946)[2] mendapatkan reputasi internasional tak lama setelah Perang Dunia I, saat dia mempublikasikan The Economic Consequences of the Peace, kritisisme yang menggigit terhadap Perjanjian Versailles yang secara formal mengakhiri perang tersebut.[3] Pada tahun 1920an dia menjadi kritikus utama terhadap standard emas dan pendukung vokal mata uang yang diatur pemerintah untuk mencapai lapangan pekerjaan penuh. Dalam bukunya di tahun 1924, A Tract on Monetary Reform, Keynes mendeklarasikan bahwa emas adalah “relik barbar” dan bahwa pemerintah harus menggunakan kendali mereka atas suplai uang untuk menjamin level harga domestik yang stabil sekalipun harus meninggalkan nilai tukar mata uang asing yang stabil antara pound Inggris dengan mata uang lain di dunia.[4]

Pada tahun 1930 Keynes menerbitkan A Treatise on Money, sebuah karya dua volume yang dia harapkan bisa memapankan reputasinya sebagai teoritisi moneter utama pada zamannya.[5] Akan tetapi, buku itu dibantai oleh para pemberi resensi, termasuk banyak ekonom yang paling terkemuka di Britania Raya dan Amerika Serikat. Kritisisme yang paling meluluhlantakkan dibuat oleh seorang ekonom Austria yang masih muda bernama Friedrich A. Hayek, yang dalam sebuah resensi sepanjang dua bagian menunjukkan kekacauan logis dan kesalahpahaman teoritis yang memenuhi seluruh buku itu.[6]

Sepanjang lima tahun berikutnya Keynes membaktikan waktunya untuk merancang sebuah teori baru bagi argumentasinya bahwa ekonomi pasar bebas secara inheren tidak stabil dan bahwa hanya bimbingan tangan pemerintah yang bisa menjamin lapangan kerja penuh di hadapan bencana ekonomi yang telah dialami selama Depresi Besar pada awal 1930an. Karya ini akhirnya muncul pada Februari 1936 di bawah judul The General Theory of Employment, Interest, and Money.[7]

Kecuali bagi beberapa murid muda Keynes di Universitas Cambridge, kebanyakan pemberi resensi terhadap buku itu bersikap sangat kritis atas banyak “inovasi” teoritisnya, juga terhadap resep inflasionernya bagi pengangguran.[8] Bahkan beberapa ekonom yang nantinya menjadi pendukung “ekonomi baru” Keynes pada awalnya sangat kritis terhadap karyanya. Sebagai misal, Alvin Hansen, yang merupakan salah satu pendukung utama ilmu ekonomi Keynesian di Amerika Serikat pada tahun 1950an dan 1960an, menulis pada akhir 1936 bahwa The General Theory “bukan tonggak penting dalam arti bahwa buku itu meletakkan dasar bagi sebuah ‘ekonomi baru’… Buku itu lebih merupakan simptom dari trend ekonomi daripada sebuah batu pondasi di atas apa ilmu pengetahuan bisa dibangun.”[9]

Tapi dalam beberapa tahun, dan yang paling pasti dengan berakhirnya Perang Dunia II, gagasan-gagasan Keynes pada hakekatnya telah menyingkirkan semua penjelasan lain mengenai sebab dan obat bagi depresi ekonomi.[10] Buku Keynes menjadi batu pondasi bagi “ilmu makroekonomi” yang baru. Wajahnya bahkan muncul di sampul dengan majalah Time edisi 31 Desember 1965. Fitur artikel yang berjudul “We Are All Keynesians Now,” menyatakan:

Hari ini, sekira 20 tahun setelah kematiannya, teori-teorinya merupakan pengaruh utama pada ekonomi baru dunia, terutama ekonomi Amerika… Sekarang Keynes dan gagasannya, sekalipun masih menggelisahkan bagi beberapa orang, telah luas diterima bahwa mereka membangun baik ortodoksi baru di universitas-unversitas maupun batu ujian bagi manajemen ekonomi di Washington… Sekarang bahkan para pengusaha, yang secara tradisional memusuhi peran Pemerintah dalam ekonomi, telah dimenangkan. … Mereka telah mulai menerima dengan yakin bahwa Pemerintah akan melakukan intervensi untuk mencegah resesi atau mematahkan inflasi, [dan] tidak lagi berpikir bahwa pengeluaran defisit menyalahi moral.[11]

Keynes mengatakan dalam The General Theory bahwa ekonomi pasar bebas tidak memiliki mekanisme yang terpasang tetap untuk menjamin lapangan kerja penuh. Kelemahan pentingnya, kata Keynes, terletak dalam hubungan antara tabungan dan investasi. Orang-orang cenderung untuk mengkonsumsi lebih begitu pendapatan mereka naik, tapi kenaikan itu tidak sebesar kenaikan dalam pendapatan. Dengan kata lain, mereka juga menabung satu porsi dari pendapatan mereka yang lebih tinggi. Masalahnya, kata Keynes, tabungan adalah “bukan-pengeluaran” dan jika orang-orang tidak mengeluarkan semua pendapatan ekstra yang mereka dapatkan, para pengusaha bisa tidak memiliki insentif untuk berinvestasi secukupnya guna mempekerjakan semua mereka yang ingin bekerja pada upah yang berlaku.

Sebagai hasilnya, porsi besar dari kekuatan tenaga kerja bisa tinggal menganggur karena sektor privat gagal menciptakan cukup pekerjaan. Ekonomi, karenanya, bisa tertahan berlarut-larut dalam apa yang oleh Keynes disebut “ekuilibrium pengangguran.” Tidak bisakah para pekerja memperbaiki prospek mereka dengan menerima upah yang lebih rendah? Tidak, kata Keynes, karena para pekerja menderita “ilusi uang” – sekalipun harga jatuh dan pemotongan upah tidak akan membuat mereka menjadi lebih buruk dalam kerangka daya beli, para pekerja akan menolak untuk menerima sedikit uang.

Daripada menuntut para pekerja untuk menerima bayaran yang lebih rendah, Keynes lebih suka menaikan tingkat umum harga sehingga para majikan bisa membuat laba tanpa memotong upah. Dengan kata lain, soslusi Keynes bagi pengangguran adalah inflasi harga.

Pengeluaran Defisit

Pengeluaran defisit pemerintah akan mendorong permintan pasar tambahan, mendorong naik harga dan menstimulasi lebih banyak pekerjaan. Proyek-proyek pengerjaan publik akan “memberikan dana untuk mendorong kegiatan.” Kebijakan ini akan terus berlangsung hingga “lapangan kerja penuh” tercapai. Tapi karena, dalam pandangan Keynes, para pengusaha biasanya berpandangan sempit dan tidak rasional dalam ketakutan mereka menyangkut prospek investasi, sektor privat akan selalu tertinggal dalam penciptaan pekerjaan. Pemerintah harus secara terus menerus berada pada kendali moneter dan fiskal, menyuntikkan pengeluaran ke dalam ekonomi untuk mencegahnya agar tidak tenggelam kembali ke dalam tingkat-tingkat yang pengangguran yang tidak diinginkan.

Dalam konsepsi Keynes mengenai dunia, pemerintah yang dituntun oleh gagasannya akan menjadi arif dan berpandangan jauh, menjamin bahwa pengangguran massal pada 1930an tidak akan pernah terjadi lagi. pemerintah akan memanipulasi suku bunga, level harga, serta jumlah dan arah investasi untuk memastikan bahwa masyarakat memiliki lapangan pekerjaan yang tinggi, investasi yang bermanfaat secara sosial, dan stabilitas ekonomi secara umum.

Ada kritik terhadap ilmu ekonomi Keynesian pada tahun 1940an dan 1950an, tapi semua itu diabaikan para ekonom akademis dan para pembuat kebijakan.[13] Beberapa makroekonom arus utama juga menaggap Keynes membebani. Tapi banyak dari kritik mereka ditulis dalam istilah yang jelas dimaksudkan untuk tidak memusuhi rekan Keynesian mereka.

Lalu pada tahun 1959 muncul karya Henry Hazlitt The Failure of the “New Economics”.[13] Apa yang unik menyangkut eksposisi Hazlitt adalah pembedahan bab demi bab terhadap argumen dalam General Theory karya Keynes.[14]

Pusat bagi teori Keynes adalah penekanannya bahwa “Hukum Lay” salah dalam mengklaim bahwa “suplai menciptakan permintaannya sendiri.” Hanya karena orang-orang menawarkan barang di pasar tidak berarti mereka akan meminta apa yang dijual orang lain. Mereka bisa jadi menarik diri dari pengeluaran dengan menahan saldo kas yang menganggur. Jadi bisa ada kekenyangan umum atas barang-barang di pasar.

Hukum Say

Hazlitt menunjukkan bahwa Keynes telah menyalahpahami apa yang dimaksudkan oleh Jean-Baptiste Say dan para ekonom abad 19 lainnya. barang pada hakekatnya bisa selalu menemukan pembeli jika harga cukup menarik. Para ekonom “klasik” pra-Keynesian tidak pernah menolak bahwa barang bisa tak terjual dan tenaga kerja tidak memiliki pekerjaan jika para pemasok gagal menyesuaikan harga dan upah mereka dengan tuntutan pasar.

Terlebih lagi, jelas Hazlitt, banyak dari para ekonom klasik, terutama John Stuart Mill, memeahami bahwa para individu bisa “menimbun” uang daripada membelanjakannya dengan segera. Tapi ini lebih sering disebabkan oleh ketidakpastian temporer dari krisis ekonomi, yang biasanya disebabkan oleh boom inflasioner yang tidak stabil sebelumnya.[15]

Cacat utama dalam pemikiran Keynes, kata Hazlitt, adalah keengganannya untuk mengakui bahwa pengangguran tinggi di Britania Raya pada tahun 1920an dan di Amerika Serikat pada tahun 1930an disebabkan oleh intervensi pemerintah, termasuk memberdayakan serikat-serikat kerja, yang membuat banyak harga dan upah yang sebenarnya “kaku.” Kekuasaan politik dan kepentingan khusus mencegah pasar untuk secara kompetitif membangun ulang keseimbangan antara penawaran dan permintaan bagi beragam barang. Karenanya, pasar dijebak dalam distorsi upah dan harga yang menghancurkan lapangan kerja dan kesempatan produksi, yang membawa pada Depresi Besar. (Hazlitt tidak menolak bahwa kontraksi pada suplai uang di awal 1930an meningkatkan derajat pada apa harga dan upah harus jatuh untuk membangun ulang lapangan kerja penuh.)

Hazlitt menganggap “perbaikan” inflasioner Keynes kasar dan berbahaya. Pertama, Hazlitt menunjukkan bahwa fokus Keynes pada “agregat” makroekonomi menyamarkan hubungan mikroekonomi di antara begitu banyak harga dan upah individual. Tingkat harga, tingkat upah, output total, permintaan agregat, dan penawaran agregat semuanya adalah fiksi statistik yang tidak memiliki realitasnya dalam pasar yang sesungguhnya. Jadi tingkat upah tidak akan terlalu tinggi relatif terhadap tingkat harga umum. Tapi dalam tahun1930an banyak upah bagi berbagai tipe tenaga kerja yang tidak seimbang dengan harga barang individual yang diijual di pasar. Apa yang dibutuhkan untuk mengembalikan lapangan kerja penuh adalah penyesuaian dari sejumlah besar upah individual dan harga sumber daya pada harga yang lebih rendah dari banyak barang konsumsi. Sejauh mana upah uang individual atau harga sumber daya harus menyesuaikan diri ke bawah tergantung pada perbedaan syarat-syarat penawaran dan permintaan dalam masing-masing pasar individual.

Kebijakan inflasioner berupaya untuk membawa beberapa hubungan harga-upah individual kembali pada keseimbangan dengan mendorong harga ke atas dalam seluruh ekonomi, jelas Hazlitt.

Karena Keynes, dengan bongkah pemikiran agregatnya menentang untuk mengembalikan lapangan kerja atau keseimbangan dengan penyesuaian kecil, gradual, dan sedikit demi sedikit… kita harus mencapai hasil yang sama dengan memompa suplai uang dan meningkatkan tingkat harga, sehingga upah real setiap orang terpangkas dengan persentase yang sama… Pengobatan Keynesian, singkatnya, seperti mengubah kunci untuk menghindari perubahan pada kunci yang tepat, atau seperti menyesuaikan piano pada bangku bukannya bangku pada piano.[16]

Kedua, Hazlitt menunjukkan bahwa para pekerja dan serikat-serikat kerja sadar bagaimana harga yang naik mempengaruhi nilai real upah uang. Tentu saja tidak ada “ilusi uang” dalam arah ke atas. Peningkatan biaya hidup yang disebabkan oleh naiknya harga akan segera membawa para pekerja dan serikat kerja menuntut bayaran yang lebih tinggi untuk menutupi hilangnya daya beli. Tapi jika para pekerja dan serikat kerja menuntut upah real yang sama seperti sebelum inflasi, maka solusi Keynesian pada pengangguran mesti gagal.

Terakhir, pendekatan makroekonomi Keynes juga menutupi fakta bahwa di balik meningkatnya tingkat harga agregat, inflasi mendistorsi banyak hubungan harga relatif, termasuk suku bunga. Ini pasti menyesatkan sumber daya, modal, dan tenaga kerja di seluruh sektor berbeda dari pasar yang pada akhirnya akan membutuhkan pergantian penawaran dan permintaan begitu inflasi berakhir. Jadi “obat” inflasioner bagi pengangguran membawa serta di belakangnya serangan baru pengangguran saat para pekerja harus berganti pekerjaan dan menyesuaikan ulang permintaan upah mereka dalam periode pasca inflasioner.

Sungguh, dalam serangkaian bab, Hazlitt menunjukkan dengan jelas bahwa Keynes dibingungkan menyangkut hubungan aktual antara tabungan, investasi, dan suku bunga. Inti dari teorinya dibangun di atas sekumpulan kesalahan dan kekeliruan. Hasilnya adlaah kegagalan Keynes untuk memahami bahwa formasi tabungan, investasi, dan modal – bukan peningkatan dalam permintaan agregat konsumen yang distimulasi pemerintah – adalah dasar bagi lapangan kerja yang berkelanjutan dan peningkatan standard hidup.

Hazlitt juga menganggap Keynes membebani karena membela peningkatan kendali dan arahan pemerintah atas pembuatan keputusan investasi. Hazlitt mengamati dengan sarkastis bahwa Keynes jelas percaya, “ada kelas orang-orang (mungkin para keonom yang mirip dengan Lord Keynes) yang benar-benar terpelajar, rasional, seimbang, arif, yang memiliki perangkat untuk mengetahui yang pasti pada setiap saat berapa banyak investasi yang dibutuhkan dan dengan pasti berapa banyak investasi itu harus dialokasikan pada industri dan proyek apa secara pasti, dan bahwa para manajer ini berada di atas korupsi dan di atas setiap kepentingan akan hasil dari pemilu berikutnya.”[18]

Jika The General Theory punya begitu banyak cacat fundamental, bagaimana buku itu bisa menjadi, dalam kata-kata salah seorang pengikutnya yang bergairah, “injil Keynesian”?[19] Hazlitt memberikan beberapa kemungkinan alasan dalam pendahuluannya atas volume yang telah disunting, The Critics of Keynesian Economics, yang muncul setahun setelah bukunya sendiri terbit. Dia menyarankan bahwa teori-teori Keynes merasionalisasi politik dari kelompok-kelompok kepentingan khusus yang berhasrat mendapatkan keuntungan dari inflasi. Juga, sementara banyak dari The General Theory ditulis dalam bahasa yang sulit, Keynes bisa mempesona pembacanya dengan citraan literer dan kejenakaan yang menyembunyikan cacat logis utamanya. Keynes menggunakan “teknik argumen-argumen samar diikuti dengan konklusi yang jernih dan berjaya,” kata Hazlitt. Dan terakhir, Hazlitt menduga bahwa keberhasilan buku itu kemungkinan banyak berhubungan dengan kemunculannya untuk menggulingkan ortodoksi yang ada dalam mendukung gagasan-gagasan radikal dan modis mengenai rekayasa sosial. “Tapi penjelasan lengkap apapun mengenai kultus Keynesian,” simpul Hazlitt, “keberadaanya merupakan salah satu dari skandal intelektual besar pada zaman kita.”[20]

Dominasi monolitik bahwa ilmu ekonomi Keynesian telah mengatasi semua kebijakan makroekonomi telah dipatahkan selama lebih dari dua dekade. Sementara ada terlalu banyak kesalahpahaman Keynes yang mendasari bagaimana para ekonom berpikir mengenai inflasi, resesi, dan pengangguran, pemikiran asli dan primitif Keynesian lebih atau kurang telah terguling. Untuk sebagian besar hal ini disebabkan oleh pembongkaran yang menyeluruh dan brilian yang dilakukan Henry Hazlitt lebih dari 40 tahun lalu.

Catatan

  1. Henry Hazlitt, The Failure of the “New Economics”: An Analysis of the Keynesian Fallacies(Princeton: D. Van Nostrand, 1959), dicetak ulang oleh Foundation for Economic Education pada tahun 1995.
  2. Biografi Keynes yang paling menyeluruh adalah Robert Skidelsky, John Maynard Keynes: Hopes Betrayed, 1883–1920(London: Macmillan, 1983), John Maynard Keynes: The Economist as Saviour, 1920–1937 (London: Macmillan, 1992), dan John Maynard Keynes: Fighting for Britain, 1937–1946 (London: Macmillan, 2000); sebagai tambahan, lihat, Roy H. Harrod, The Life of John Maynard Keynes (London: Macmillan, 1951), dan D. E. Moggridge,Maynard Keynes: An Economist’s Biography (London: Routledge, 1992). Mereka semua sangat bersimpati kepada Keynes sebagai seorang ekonom dan pendukung kebijakan.
  3. John Maynard Keynes, The Economic Consequences of the Peace(New York: Harcourt, Brace, 1920); lihat analisa kritis atas argumen-argumen Keynes mengenai perjanjian damai oleh Etienne Mantoux, The Carthaginian Peace, or The Economic Consequences of Mr. Keynes (New York: Charles Scribner’s Sons, 1952).
  4. John Maynard Keynes, A Tract on Monetary Reform(New York: Harcourt, Brace, 1924); lihat analisa kritis atas argumen-argumen Keynes oleh Benjamin M. Anderson, “The Gold Standard vs. ‘A Managed Currency,’” Chase Economic Bulletin, March 23, 1925, hal. 39.
  5. John Maynard Keynes, A Treatise on Money, 2 vols. (New York: Harcourt Brace, 1930).
  6. Friedrich A. Hayek, “Reflections on the Pure Theory of Money of Mr. J. M. Keynes,” Economica, August 1931, pp. 270–95, and February 1932, hal. 22–44; dicetak ulang dalam Bruce Caldwell, ed., The Collected Works of F. A. Hayek, vol. 9: Contra Keynes and Cambridge: Essays, Correspondence (Chicago: University of Chicago Press, 1995), hal. 121–97, yang juga menyertakan balasan Keynes setelah kemunculan bagian I dari resensi dan jawaban ulang Hayek.
  7. John Maynard Keynes, The General Theory of Employment, Interest, and Money(New York Harcourt, Brace, 1936); dia sebelumnya menyajikan garis besar resepnya untuk seorang “aktivis” kebijakan pemerintah dalam The Means to Prosperity (London: Macmillan, 1933).
  8. Beberapa dari resensi ini, terutama yang ditulis oleh Frank Knight dan Jacob Viner, diterbitkan bersama-sama beberapa tahun kemudian dalam Henry Hazlitt, ed., The Critics of Keynesian Economics(Princeton: D. Van Nostrand, 1960); ada banyak orang lain yang tidak disertakan dalam antologi menarik ini, terutama resensi dan esai karya Henry Simons, Joseph Schumpeter, Dennis Robertson, Arthur C. Pigou, Bertil Ohlin, Erik Lindahl, dan Carl Landauer, yang sangat kritis dan berwawasan mengenai kesalahan fundamental dalam gagasan-gagasan Keynes.
  9. Alvin H. Hansen, “Mr. Keynes on Underemployment Equilibrium,”Journal of Political Economy (October 1936), hal. 686. Hansen nantinya menulis satu dari eksposisi populer yang luas dibaca mengenai gagasan-gagasan Keynes; lihat karyanya A Guide to Keynes (New York: McGraw-Hill, 1953).
  10. Untuk eksposisi mendetail mengenai analisa “Austrian” tentang sebab dan obat bagi Depresi Besar dibandingkan dengan perspektif Keynesian, lihat Richard M. Ebeling, “The Austrian Economists and the Keynesian Revolution: The Great Depression and the Economics of the Short-Run” dalam Richard M. Ebeling, ed., Human Action: A 50-YearTribute (Hillsdale, Mich.: Hillsdale College Press, 2000), hal. 15–110.
  11. “We Are All Keynesians Now,” Time, December 31, 1965, hal. 64–67B. Kutipan-kutipannya berasa dari hal. 64-65. Empat tahun kemudian, Milton Friedman muncul dalam liputan Time (December 19, 1969, hal. 66–72), di mana majalah itu mengatakan bahwa “Friedman, guru besar ekonomi di Universitas Chcago yang berumur 57 tahun… telah mencapai puncak kesarjanaan: kepemimpinan menyeluruh atas sebuah mazhab pemikiran ekonomi. Mazhab pemikiran yang disebut sebagai ‘Mazhab Chicago’, dan gerombolan pengikutnya yang bertumbuh mengargunetasikan bahwa suplai uang sejauh ini merupakan hal paling penting dan tindakan paling cepat dari para regulator ekonomi pada penyelesaian Pemerintah… Kebanyakan ekonom saat ini menganggap diri mereka … hibrida… ‘Friedmanesque Keynesians’” (hal. 66).
  12. Di antara kritikus yang paling anti-Keynesian yang menganggap gagasannya membebani dalam beberapa detail adalah W. H. Hutt, The Theory of Idle Resources(London: Jonathan Cape, 1939); Arthur W. Marget, The Theory of Prices: A Re-Examination of the Central Problems of Monetary Theory, 2 vols. (New York: Augustus M. Kelley, 1966 [1938 dan 1942]); Benjamin M. Anderson, “The Road Back to Full Employment” dalam Paul T. Homan and Fritz Machlup, eds., Financing American Prosperity: A Symposium of Economists(New York: Twentieth Century Fund, 1945), hal. 9–70; L. Albert Hahn, The Economics of Illusion: A Critical Analysis of Contemporary Economic Theory and Policy (New York: Squier Publishing, 1949), dan Common Sense Economics (London/New York: Abeland-Schuman Ltd., 1956); Philip Cortney, The Economic Munich (New York: Philosophical Library, 1949); dan Hans Mayer, “John Maynard Keynes’ ‘Neubegründung’ der Wirtschaftstheorie” [“John Maynard Keynes’s ‘New Foundation’ for Economic Theory”] dalam E. Lagler and J. Messner, eds., Wirtschaftsliche Entwicklung und soziale Ordnung [Economic Development and Social Order] (Wien: 1952), hal. 39–55.
  13. Empat tahun kemudian telaah kritis mendetail lainnya terhadap ilmu ekonomi Keynesian muncul: W. H. Hutt, Keynesianism: Retrospect and Prospect: A Critical Restatement of Basic Economic Principles(Chicago: Henry Regnery, 1963); buku itu kemudian terbit dalam edisi revisi dengan judul The Keynesian Episode: A Reassessment(Indianapolis: Liberty Press, 1979); lihat juga W. H. Hutt, A Rehabilitation of Say’s Law (Athens: Ohio University Press, 1974).
  14. Hazlitt, The Failure of the “New Economics, hal. 4: “Saya tahu tidak ada satupun buku yang membuat analisa bab demi bab atau teorema demi teorema atas [The General Theory]. Tugas inilah yang saya ambil di sini.”
  15. , hal. 361–71; lihat John Stuart Mill, “Of the Influence of Consumption on Production” [1844] dalam Hazlitt, ed., The Critics of Keynesian Economics, hal. 24–45.
  16. The Failure of the “New Economics,”  280–81; pada derajat di mana upah uang yang tidak fleksibel relatif terhadap harga untuk mengakhiri barang konsumsi menaikkan biaya real para pekerja di awal 1930an, dan karena itu menyebabkan meningkatnya pengangguran, lihat Richard K. Vedder dan Lowell Gallaway, Out of Work: Unemployment and Government in Twentieth-Century America (New York/London: Holmes & Meier, 1993), hal. 79–95.
  17. Lihat juga Henry Hazlitt, The Conquest of Poverty(New Rochelle, N.Y.: Arlington House, 1973), hal. 217–28.
  18. The Failure of the “New Economics,”  324; menyangkut arogansi dalam pemikiran Keynes mengenai elite yang arif dan cukup baik untuk mengatur makro ekonomi, dan konsekuensi dunia nya yang merusak, lihat juga James M. Buchanan and Richard E. Wagner, Democracy in Deficit: The Political Legacy of Lord Keynes(New York: Academic Press, 1977).
  19. Seymour E. Harris, “About this Book,” dalam Seymour E. Harris, ed., The New Economics: Keynes’ Influence on Theory and Public Policy(New York: Alfred A. Knopf, 1948), hal. 9.
  20. Hazlitt, “Introduction” in The Critics of Keynesian Economics, hal. 9–10.

diterjemahkan oleh amato dari https://fee.org/articles/henry-hazlitt-and-the-failure-of-keynesian-economics/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s