Relevansi Mazhab Ekonomi Austria

oleh Amato Assagaf

Silly-Statist.jpg

Kita tidak mempelajari ilmu ekonomi Mazhab Austria dengan terutama mempertimbangkan relevansinya, karena orang sakit mana yang bisa mengatakan bahwa ilmu ekonomi tidak ada relevansinya dalam kehidupan kita? Kita mempelajari ilmu ekonomi Mazhab Austria untuk alasan yang sama kenapa kita mempelajari ilmu ekonomi. Itu alasan pertama. Alasan yang kedua bertolak dari optimisme historis sementara pendukung ekonomi pasar bebas bahwa, setelah menunggu begitu lama, mazhab ekonomi Austria kini tengah berada pada jalannya untuk menjadi yang terdepan.

Tapi, untuk menghindari optimisme yang disalahpahami, giliran bagi Mazhab Austria untuk berada di depan tidak perlu bersebab oleh pesimisme atas bentuk-bentuk ilmu ekonomi yang lain. Tidak ada yang salah dari berbagai macam ilmu ekonomi yang kita pelajari selama ini, terutama apa yang kita anggap sebagai ilmu ekonomi arus utama, seperti neoklasik. Giliran itu semata datang dari sifat genah (sound) dalam gagasan-gagasan yang ditawarkan mazhab ekonomi Austria.

Persoalannya, yang genah itu tidak selalu serius atau, tepatnya, sering tidak dianggap serius. Sejarah ilmu pengetahuan yang benar-benar revolusioner, seperti Kopernikus dan gagasan heliosentrisnya, berlangsung dengan takdir sedemikian. Dan tampaknya takdir yang sama juga berlaku pada Mazhab Austria, termasuk pada para pelaku utamanya. Kecuali Friedrich Hayek yang sempat dihargai dengan Hadiah Nobel, pentolan utamanya Ludwig von Mises bahkan tidak pernah diberikan jabatan akademis selama hidupnya di Amerika.

Namun, kesulitan untuk menganggap serius mazhab ekonomi Austria bisa dimengerti. Bagaimana tidak, dalam sejarahnya ilmu ekonomi harus selalu berhadapan dengan tuntutan untuk menjadi lebih berguna dan kebutuhan untuk dianggap serius sebagai ilmu pengetahuan. Dan ilmu ekonomi telah menempuh jalan yang cukup berbelit untuk tiba pada posisinya yang sekarang – yang kemudian digugat oleh Mazhab Austria – untuk menjadi berguna dengan cara yang serius.

Walaupun dianggap lahir dari karya Adam Smith di tahun-tahun yang jauh itu tapi ilmu ekonomi yang kita kenal sekarang bisa dibilang baru terbentuk di tahun-tahun yang dekat ini. Paling krusial di antara tahun 30-an hingga 60-an pada abad kemarin. Pembentukannya berlangsung dalam pencarian yang gigih atas tuntutan dan kebutuhan di atas. Yang unik pada masa ini adalah pertemuan ilmu ekonomi dengan matematika dan bagaimana rigoritas ala ilmu fisika melahirkan rasa iri para ekonom. Setelah berdirinya Econometric Society, definisi ilmu ekonomi yang diajukan Lionel Robbins pada tahun 1932, keterlibatan para ekonom dalam berbagai proyek pemerintah selama masa Perang Dunia Kedua, dan kekecewaan Alfred Cowles pada ketidakmampuan para ekonom meramalkan kejadian di pasar saham yang melahirkan Cowles Commission, ilmu ekonomi kemudian sepenuhnya menjadi berguna dengan cara yang serius.

Berguna maksudnya bisa digunakan untuk merancang dan meramal, sedangkan serius maksudnya teknis, matematis, dan empiris. Makanya terbaca aneh namun tidak mengherankan ketika Robert Heilbroner menyebut ilmu yang, maunya, saintifik ini sebagaiworldly philosophy. Sebagai ekonom sosialis, Heilbroner memang ngaco, tapi merindukan kembalinya ilmu ekonomi sebagai sebentuk kearifan hanya membuat dia menjadi sedikit berlebihan tapi sama sekali tidak keliru.

Bukan kebetulan, Mazhab Austria datang dari dunia yang lain, kawasan berbahasa Jerman yang akrab dengan kearifan itu. Nama-nama seperti Kant, Hegel, dan Nietzsche bukan filsuf raksasa tanpa dangka, termasuk pentolan Filsafat Analitik, Ludwig Wittgenstein, serta kaum positivis radikal yang berkumpul dalam Lingkaran Wina. Mereka datang dari kawasan yang sama dengan Mises dan Hayek di mana kearifan tidak dirindukan seperti di Amerikanya Heilbroner, tapi dipraktekkan. Jadi nama Austria bagi mazhab ekonomi ini juga bisa ditafsirkan sebagai sebuah ciri dari cara berpikir yang tidak bisa dilepaskan dari kearifan filosofis.

Secara khas, cara berpikir itu namanya prakseologi, bukunya Human Action, penulisnya Ludwig von Mises. Sejarah ilmu ekonomi Austria tidak dimulai dari situ tapi cara berpikir itu, buku itu, dan penulisnya adalah engsel dari seluruh sejarah mazhab ini, ke belakang hingga Richard Cantillon dan ke depan hingga Per Bylund. Karenanya, meski sama dengan para ekonom lain dalam menekankan sifat ilmiah dari ilmu ekonomi dan sangat serius dalam soal itu, Mises tidak memahami rigoritas yang dibutuhkan bagi keilmiahan ilmu ekonomi harus mengikuti metode yang dikembangkan dalam ilmu-ilmu alam. Dia terlalu filosofis, dalam arti cukup arif, untuk tidak memperhitungkan bahaya positivisme yang bisa mengangkangi kemampuan kita membaca fenomena tindakan dan pilihan manusia.

Pengejaran akan keilmiahan ala fisika dan, terutama, penggunaan matematika yang eksesif, bagaimanapun juga, berbahaya bagi ilmu yang menetapkan tindakan manusia sebagai dasar epistemologis bagi keberlakuan dan keberlangsungannya. Bahayanya adalah kekeliruan dalam memahami dan menjelaskan berbagai fenomena dan peristiwa ekonomi. Akibatnya adalah depresi, resesi, Uni Soviet, stagflasi, termasuk Venezuela dan kebangkitan sosialisme lewat Keynesianisme. Misalnya, pertanyaan sederhana, kamu mau kehilangan pendapatan hanya karena para ekonom keliru berhitung?

Persoalannya, selama mereka hitung berhitung selama itu pula mereka akan terancam untuk keliru. Kenapa? Sederhana, dalam tindakannya manusia terikat pada hukum ‘sebab’ dan ‘akibat’, serta kontinuitas waktu ‘sebelum’ dan ‘sesudah’. Sedangkan matematika bekerja seperti fotografi, membekukan segalanya dalam kesederhanaan yang menakjubkan. Terlalu menakjubkan untuk benar. Penggunaan matematika yang khas dalam ekonomi namanya ekonometrika. Di dalam ekonometrika, kamu bisa menemukan segalanya kecuali kausalitas tindakan manusia dan keberlanjutannya dalam waktu serta, tentu saja, milyaran kemungkinan pilihan yang mungkin ditindaki manusia sebagai pelaku ekonomi.

Matematika bukan satu-satunya keangkuhan teknis dan bahaya positivisme yang digugat Mises dan Mazhab Austria dalam ilmu ekonomi. Yang lainnya adalah empirisisme, meski dalam hal ini gugatan itu sepertinya lebih mungkin telah dilebih-lebihkan. Jika kita mempelajari gagasan ekonomi Austria dengan benar, tidak ada keberatan pada penggunaan data empiris per se tapi lebih pada empirisisme yang muncul dari situ. Pada sebentuk ideologi epistemologis yang bersembunyi dalam penggunaan data dan fakta itu. Pada ilusi data sebagai representasi langsung kenyataan yang telah, sedang, dan akan kita hadapi.

Sebagai contoh, kita bisa membaca bahwa salah satu kritik terhadap bank sentral Amerika, the Fed, di seputar masa resesi 2008 adalah perhatian eksesif Gubernur The Fed Ben Bernanke and the gang pada satu bentuk data tertentu yang membuat mereka abai terhadap kenyataan bahwa Paman Sam secara keseluruhan sedang sakit. Lewat kritik ini kita bisa langsung mengenali di mana posisi Mazhab Austria dalam persoalan ini, data empiris selalu menyimpan asumsi dalam pemilihannya dan tetap membutuhkan teori dalam penafsirannya. Lebih lanjut, apa yang kita sebut fakta-fakta ilmu sosial oleh Mazhab Austria dikenali sebagai apa yang dipikirkan dan dipercayai orang-orang.

Dan jika gagasan seperti itu tampak terlalu berbau filsafat, maka kita boleh kembali pada perdebatan sejauh apa ilmu ekonomi (dan seluruh ilmu sosial lainnya) boleh meninggalkan kearifan. Atau kita boleh terus maju dan menemukan bahwa setelah beberapa bab mengenai harga, hukum penawaran dan permintaan, buku pengantar ekonomi kita sudah tidak lagi membicarakan manusia. Padahal, jika dimensi puitis ilmu-ilmu alam terletak pada regularitas obyek kajiannya, maka hal yang sama dalam ilmu-ilmu sosial terletak pada apa yang oleh Hayek disebut sebagai tatanan spontan. Sebentuk kekacauan yang tertata oleh harmoni alami kepentingan individu manusia.

Mazhab Austria tidak membenci matematika dan penggunaan data serta ekonometrika dalam ekonomi. Ia hanya merasa gerah dengan euforia positivisme yang membayangi kegunaan ilmu ekonomi serta keinginannya untuk dianggap serius dalam ilusi mengenai pemikiran konstruktif dan rigor ala ilmu fisika. Lebih dalam lagi, Mazhab Austria tidak ingin membetot ilmu ekonomi dari pengakuan atasnya sebagai ilmu pengetahuan dengan kualitas ilmiah. Ia hanya menawarkan gagasan bahwa keilmiahan itu tidak harus membetot sifat asli dan asali dari ilmu ekonomi sebagai kajian atas manusia dalam tindakan dan pilihannya. Mises sendiri berbicara tentang ilmu ekonomi yang “bebas-nilai” dan menampilkannya sebagai, dalam bahasa Steven Horwitz, “seperangkat gagasan yang berguna untuk menganalisa dan memahami dunia.”

Karena itu, jika kita harus mengemukakan mengenai relevansi wacana mazhab ekonomi ini bagi Indonesia, maka itu terletak pada rayuannya sebagai sebuah wacana alternatif. Tapi bukan posisinya sebagai alternatif itu yang sesungguhnya menarik melainkan argumentasi yang dikemukakannya untuk menjadi alternatif sebagaimana yang telah coba dipaparkan dengan ringkas di atas. Mazhab Austria mendirikan seluruh bangun gagasannya dengan cara mengembalikan dan mempertahankan dengan berkeras kepalapada apa yang telah hilang dalam abstraksi teknis matematis, serta pembacaan atas “fakta” dalam data empiris yang seringkali kehilangan perspektif; manusia dalam tindakannya sebagai pelaku ekonomi.

Ketika seluruh bangsa Indonesia tersadar, entah dalam ketakutan ataupun dengan harapan, pada kenyataan bahwa dunia kini telah terhubung dalam seluruh bagiannya, ilmu ekonomi yang genah membutuhkan perspektif yang memperhitungkan manusia sebagai titik tolak sekaligus tolok ukurnya. Karena yang harus kita cemaskan bukanlah keterhubungan itu, keterbukaan satu bangsa terhadap yang lain yang sesungguhnya lebih menguntungkan daripada merugikan, tapi lenyapnya manusia dari perhitungan kita dalam membuat analisa dan, terutama, saat akan melahirkan kebijakan ekonomi. Dan kita tidak sedang bicara tentang “buruh” atau “pengusaha” atau “rakyat” atau “bangsa” dan abstraksi kolektif lainnya, termasuk agregat-agregat yang janggal itu, tapi tentang manusia nyata dan bagaimana mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain sebagai buruh, pengusaha, masyarakat, bangsa, dan warga dunia.

Masih sangat banyak sumbangan Mazhab Austria sebagai alternatif yang genah dalam ilmu ekonomi. Tulisan ini hanya menyentil satu bagian yang sangat kecil dari seluruh sumbangan itu dengan harapan bisa menjadi penyentil bagi minat untuk mempelajari ilmu ekonomi Mazhab Austria dan menyebarkan hasil belajar itu kepada Indonesia lewat tulisan-tulisan yang jauh lebih bernas. Lebih dari itu, kita boleh percaya bahwa di luar sana, di seluruh Indonesia, banyak orang yang tengah dan telah mempelajari ilmu ekonomi Mazhab Austria dan tulisan ini juga dimaksudkan untuk menyentil mereka agar mau berbagi.

Tulisan ini pertama kali dimuat di http://suarakebebasan.org/id/dasar-libertarianisme/item/612-masihkah-relevan-mazhab-ekonomi-austria

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s