Versi Yang Mustahak dari Mazhab Austria

oleh Amato Assagaf

9fadb6d3e28e2be47da4c87e012c5962_XL.jpg

Carl Menger tidak turun dari langit dan mazhab Austria bukan agama. Tapi jika kita bicara tentang kitab suci bagi ilmu ekonomi, mazhab Austria punya beberapa. Yang punya kapasitas untuk jadi nabi, lengkap dengan kitab sucinya, bagi mazhab Austria yang pantas adalah Ludwig von Mises dan Murray Newton Rothbard.

Mises punya Human Action dan Rothbard dengan Man, Economy, and State. Dengan kedua ekonom ini dan buku-buku mereka, mazhab Austria – dari versi kurang Hayekian – hadir sebagai sebuah tantangan tersendiri baik buat para ekonom pada umumnya maupun kepada para ekonom laissez-faire.

Apa perbedaan keduanya dengan Friedrich von Hayek? Pernyataan Bryan Caplan dalam kritiknya terhadap mazhab Austria barangkali bisa memberi sedikit gambaran. Dalam hasil permak saya, Caplan mengatakan, “Jika Hayek benar, maka ilmu ekonomi (arus utama) bisa jalan terus, tapi jika Mises-Rothbard yang benar maka ilmu ekonomi (arus utama) harus dirombak seluruhnya.”

Caplan tidak seluruhnya benar karena kita hanya perlu membuang sekian asumsi (terutama) metodologis yang sudah baku dari ilmu ekonomi arus utama (neoklasik dalam hal ini) lewat penggunaan logika deduktif. Selebihnya adalah uji coba logis-teoritis yang terus menerus untuk menemukan simpulan yang paling kuat.

Tapi pernyataan Caplan di atas memang mampu menunjukkan apa yang berbeda dari duo Mises-Rothbard. Saat ini, secara esensial, sulit bagi kita untuk membaca mazhab Austria tanpa kedua ekonom itu tapi hanya sulit secara populer untuk membaca mazhab Austria tanpa Hayek.

Saya tidak mengatakan bahwa kita boleh meninggalkan Hayek tapi, di luar popularitas mazhab Austria yang bersebab olehnya, Hayek sesungguhnya tidak sedemikian esensial bagi mazhab Austria dalam perkembangannya saat ini. Seperti peran Friedrich von Wieser dibandingkan Carl Menger dan Eugen Bohm-Bawerk dalam mazhab Austria periode awal.

Dengan Hayek, mazhab Austria mungkin lebih pantas disebut sebagai ekonomi laissez-faire terbatas, seperti ketika kita membicarakan Milton Friedman – tentunya dengan ‘sense of free market’ yang cukup kental. Seperti Friedman, dalam kapasitasnya sendiri Hayek adalah nabi ekonomi pasar bebas. Tapi, harus ditambahkan, dari jenis yang berbeda dengan duo Mises-Rothbard.

Mari kita bermain-main dengan asosiasi yang boleh jadi sangat lancung dan/atau lancang tapi boleh diharap mampu mengomunikasikan apa yang hendak saya sampaikan. Bayangkan bahwa ekonomi laissez-faire adalah agama samawi, maka mazhab ekonomi Austria adalah agama Islam. Dalam lingkungan ini, Hayek adalah Musa, nabi utama bagi kalangannya (Yudaisme/Austrianisme jilid I) dan memiliki posisi penting dalam mazhab Austria, sebagaimana Musa dalam Islam. Tapi dia jelas bukan yang utama.

Masih dalam lingkaran samawi ini, Friedman adalah Isa/Yesus, yang “keluar” dari pakem monoteisme Abrahamik dan muncul sebagai Tuhan dalam tafsir terkemudian (Kristianitas/Monetarisme). Seperti Friedman bagi mazhab Austria, dalam Islam, baik teologi Kristen maupun posisi ilahiah itu, ditolak 10 kali 10 persen.

Pada mazhab Austria, dalam asosiasinya dengan Islam, Mises adalah Ibrahim dan Rothbard, dengan segala penolakan dan/atau, tepatnya, pengabaian padanya dari lingkaran umum ekonomi laissez-faire, adalah Muhammad.

Kita tahu, dalam Yudaisme, Ibrahim adalah sang pemula; penting dengan klaim yang telah ditafsir ulang. Dalam Kristen dia dibicarakan dan dihormati secara mendua. Dalam Islam, dia kembali menjadi yang agung dan tipologi bagi kenabian Muhammad. Karyanya dijadikan kiblat dan Muhammad mengklaim dirinya sebagai turunan teologis dan genetis Ibrahim dari putranya – yang bukan kebetulan tidak penting dalam teologi genealogis Yudeo-Kristiani (neoliberalisme sebagai hubungan unik Mont Pelerin Society [MPS] dan monetarisme mazhab Chicago), yaitu Ismail (Hazlitt sebagai seorang Bastiatan?).

Tapi asosiasi ini, sekali lagi, hanyalah cara yang kurang lurus dalam meletakkan posisi Mises dan Rothbard serta mazhab Austria dari versi yang mustahak dalam keseluruhan wilayah ekonomi laissez-faire. Juga untuk menggambarkan posisi Hayek dalam mazhab Austria dalam menjelaskan pembacaan Caplan, yang saya kutip di atas, serta berbagai kritik terhadap mazhab Austria yang mustahak dalam gerbong ekonomi laissez-faire secara keseluruhan. Dalam hampir semua kritik ini, versi mazhab Austria dari Hayek tampaknya mereka anggap lebih aman dibanding radikalisme Mises-Rothbard.

Problemnya adalah cara memandang dan menggagas pasar bebas yang, dalam kerangka asosiasi kita, boleh dianggap sebagai konsep Tuhan dalam lingkar agama samawi. Islam/mazhab Austria menawarkan sebentuk monoteisme radikal/pasar bebas radikal yang memang tidak terasa nyaman (dan dianggap kurang piknik) oleh para proponen Yahudi dan Kristen/model-model intervensionisme terbatas ala Hayek dan Friedman.

Dan manakala kedua agama yang lebih tua ini mampu hadir, secara janggal, membentuk peradaban Yudeo-Kristiani/neoliberalisme dalam arti luas, kita bisa membayangkan, dengan bias Islam yang cukup, apa reaksi Ibrahim kala hadir dalam pertemuan Musa dan Isa, “Kalian tidak lebih dari orang-orang yang telah berpaling!”

Sampai di sini, saya hanya ingin membawa pembaca pada sebuah peristiwa yang diceritakan Isa, maaf, Friedman yang bisa kita simak lewat The Commanding Heights karya Daniel Yergin dan Joseph Stanislaw. Diceritakan Friedman bagaimana polah tingkah Mises terakhir kalinya dia menghadiri pertemuan MPS. Di tengah pembicaraan yang mengkompromikan ekonomi dengan kehadiran negara dan segala sesuatu yang berbau keterlibatannya, Mises berdiri dan menggebrak meja sambil menuding kepada peserta yang ada, “Kalian semua sosialis!” (dalam salah satu tafsir, Qur’an menyebutnya yang dimurkai [Hayek] dan yang sesat [Friedman]).

Jerit meradang Mises waktu itu nantinya akan ditafsirkan Rothbard dalam sebentuk mazhab Austria yang membuat Caplan serta beberapa ekonom laissez-faire melayangkan kritik. Tapi apa boleh buat, mereka memang harus mengkritik mazhab Austria yang mereka pahami (dengan benar) sebagai sedikit Hayek dan sama sekali bukan Friedman.

Sementara bagi para pengikut mazhab Austria yang mustahak, seperti Walter Block (syiah), Lew Rockwell (sunni), dan Hans-Hermann Hoppe (wahabi), mazhab Austria adalah satu paket gagasan dari duo Mises-Rothbard. Anarko-kapitalisme sebagai konsekuensi sosio-politis dari model ekonomi mazhab Austria dalam ajaran Rothbard tampak laksana tuntutan negara Islam dalam ketiga sekte yang ada; Block dengan wilayatul faqih, Rockwell dalam gerakan Ikhwanul Muslimun, dan Hoppe dengan Talibanisme. Mustahil namun begitu mengancam.

Tapi mazhab Austria bukan agama dan ekonomi laissez-faire bukan sebuah kesepakatan historio-teologis. Keduanya adalah ikhtiar manusia rasional dalam mencari jalan terbaik bagi pembentukan diri dan masyarakat manusia lewat manfaat ilmu ekonomi.

Dalam tafsir ini, saya hanya ingin menunjukkan bahwa mazhab Austria adalah segala sesuatu bagi kesimpulan ilmiah tentang sebentuk ekonomi pasar bebas dalam baik dan buruknya wawasan ilmu ekonomi yang digagas oleh Mises dan Rothbard sebagai sebuah kesatuan. Tanpa keduanya, kita sedang bicara tentang mazhab Austria yang ganjil.

Demikian pula tampak bahwa yang sedang dibicarakan dalam tulisan ini adalah dua hal penting dari keberadaan ilmu ekonomi mazhab Austria yang mustahak. Pertama, pentingnya metodologi bagi ilmu ekonomi (yang oleh Caplan dianggap mengancam integritas ilmu ekonomi arus utama). Kedua, posisi penting Murray Rothbard dalam mazhab ekonomi yang saya klaim sebagai wawasan ekonomi terbaik bagi Indonesia saat ini.

Persoalan mengenai metodologi menempatkan mazhab Austria dalam posisi heterodoks terhadap ilmu ekonomi neoklasik sebagai arus utama. Human Action dianggap sebagai kitab yang berbahaya dan lengkap dengan ajarannya yang dianggap penuh kebencian terhadap lawan-lawannya. Meski Mises tidak pernah mengatakan bahwa membunuh kaum sosialis dan intervensionis adalah jihad yang dijamin surga.

Namun, pada faktanya, apa yang membikin jerih para ekonom lain dari buku ini adalah kebenarannya (mereka mungkin merasa sekian tahun kuliah untuk menjadi ekonom bisa berarti sia-sia karena ajaran Mises). Ya, menerimanya lebih dari sekedar resepsi apresiatif dalam tata krama akademis, akan memaksa kita untuk mempertanyakan beberapa asumsi utama keilmuan ekonomi yang sudah dianggap given.

Adapun wawasan Rothbardian, bahkan bagi para ekonom libertarian, tampak sangat seram (bayangkan Block dan Rockwell dengan jubah dan sorban) serta lebih nyaman untuk dipandang sebagai “pembelaan yang terlalu berlebihan” untuk mengutip Tom Palmer. Salah satu efek Rothbard yang membuat miris banyak libertarian (dari kelompok yang lebih konservatif) adalah pembacaan Hoppe atas posisi politik dalam kehidupan ekonomi dengan simpulannya yang mengejutkan dalam Democracy: The God That Failed.

Dalam buku itu, dengan semangat keunggulan pasar Rothbardian yang bersifat anarkis, demokrasi bukan hanya digugat tapi juga ditolak sebagai mekanisme pengambilan keputusan. Hoppe, seperti Rothbard, tidak menghitung proporsi politis bagi penerimaan ide-ide pasar bebas hanya karena ingin konsisten terhadap gagasan mazhab Austria (yang keabsahannya dijamin oleh Mises).

Tapi kekuatiran terhadap intervensionisme dan proteksionisme, dengan segala seluk maupun beluknya dalam mekanisme politik, adalah semangat orisinal Mises yang menggebrak meja dalam pertemuan MPS yang telah diceritakan di atas. Tindakan yang menjadi karakter pembeda antara mazhab Austria yang mustahak dengan semua versinya yang lain.

Kita tentunya harus paham bahwa mazhab Austria bukanlah sebuah gagasan monolitik melainkan begitu beragam. Dari versi Hayek (itulah kenapa istilah Hayekian sangat bermakna), Lachmann, hingga Kirzner, untuk menyebut beberapa yang terkemudian, semuanya adalah bagian yang harus diapresiasi dalam mempelajari mazhab Austria. Tapi jika Caplan dan, misalnya, Tom Palmer mengkritik mazhab Austria, yang mereka maksudkan adalah versi Mises-Rothbard.

Saya pernah belajar membayangkan mazhab Austria tanpa Rothbard. Ah, itu adalah versi porno para jangak Amerika dari erotisme Eropa, pikir saya. Tapi, maaf seribu maaf, saya selalu gagal membaca Mises dalam konsistensinya tanpa si jangak Rothbard. Dan, kita tahu, tidak ada mazhab Austria tanpa Ludwig von Mises.

Seseorang 1: Gua bisa menemukan mazhab Austria tanpa harus membaca Mises.

Seseorang 2: Ke laut aja, loe!

Lalu bagaimana dengan, misalnya, Israel Kirzner yang begitu Misesian tanpa harus menerima kejangakan Rothbard? Kirzner bertentangan dengan Rothbard dalam banyak isu, seperti dalam soal entrpreneurship. Tapi hanya dengan membaca The Driving Force of the Market dan The Economic Point of View, pemikiran Kirzner akan tampak jelas sebagai versi yang kurang sangar dari gagasan Mises. Selebihnya, ekonom elegan ini, tak lebih dari radikalis pasar bebas yang hanya kalah kontroversial dibandingkan Rothbard.

Tapi jika mazhab Austria memang sebuah agama (jujur saja, saya sudah muak dengan asosiasi ini) maka ia hanya punya satu nabi saja, Ludwig von Mises. Dalam tuduhan Hoppe (dengan wahabismenya yang kentara) Hayek dinabikan oleh orang-orang dari luar lingkaran mazhab Austria, lengkap dengan hadiah nobel yang diberikan setahun setelah Mises wafat, untuk menutupi peran penting Mises yang gagasan-gagasannya memang menggentarkan akal sehat kita akan ekonomi, baik sebagai ilmu pengetahuan dan terutama sebagai kebijakan publik.

Saya, serta seluruh aktivis Mises Club Indonesia (MCI), tidak bisa menerima pandangan Hoppe soal Hayek. Karena jangankan Hayek, ekonom pasar bebas kapiran seperti Friedman saja kami hormati dan pelajari. Dalam lingkungan ekonom pendukung pasar bebas, Friedman, apalagi Hayek, bukan hanya nama yang begitu saja nyempil dan tiba-tiba menjadi penting. Mereka adalah para raksasa yang berada di garis depan perjuangan pembebasan umat manusia dari seluruh gagasan ekonomi jahiliyah anti pasar bebas.

Artinya, ini adalah persoalan memilih argumentasi yang genah bagi kemestian pasar bebas dalam ilmu ekonomi. Memilih mazhab Austria dalam versinya yang mustahak adalah alasan itu. Karenanya kami juga sadar bahwa konsekuensi dalam menerima Mises dan mazhab Austria mengarahkan kami pada penerimaan atas Rothbard dan seluruh sektenya, termasuk wahabisme Hoppe (saya pribadi menganggap The Economics and Ethics of Private Property karya Hoppe sebagai buku terbaik mengenai kepemilikan pribadi dalam lingkaran ekonomi pasar libertarian).

Maka lebih dari sekedar tidak ada Mises tidak ada mazhab Austria, perlu kiranya bagi kami untuk juga menyerukan keabsahan proposisi bahwa tidak ada Rothbard tidak ada mazhab Austria. Itulah kenapa kami membaca semua kritik dari kelompok libertarian terhadap mazhab Austria. Sadar atau tidak, mereka dengan jelas menunjukkan esensialitas ajaran Rothbard dalam kerangka ilmu ekonomi mazhab Austria.

Bagi Indonesia, sekaligus bagi asumsi keliru bahwa mazhab ekonomi yang genah ini belum dikenal di negeri ini (sekalipun dalam pengenalan yang bersifat kurang lebih), membawa ke depan gagasan-gagasan ekonomi Rothbard – yang diperlukan untuk menjernihkan posisi Austria dalam pertimbangan ekonomi terutama pada ranah kebijakan publik – bukanlah “taktik” pewacanaan yang keliru.

Seorang kawan libertarian pernah mengeluhkan hal ini di telinga saya sekira empat tahun yang lalu. “Anak bangsa yang kita cintai ini,” katanya dengan lembut namun berapi, “belum bisa menerima gagasan paling moderat dari sistem ekonomi pasar bebas. Jadi,” sambungnya, “bukanlah langkah yang cantik untuk mendakwahkan versi yang radikal dari gagasan ekonomi pro pasar bebas adalahseperti Rothbard di sini saat ini.”

Tapi kamu menerima Rothbard sebagai wawasan yang benar? “Lebih dari yang lain,” jawabnya dengan api yang sama. Maka sayapun membentuk Mises Club Indonesia dengan sebuah pernyataan sederhana: Ini adalah kelompok studi ilmu ekonomi yang berjuang untuk memajukan dan mengajukan ilmu ekonomi mazhab Austria dalam wawasan Ludwig von Mises dan Murray Newton Rothbard sebagai alternatif bagi Indonesia.

Syukurlah, tidak ada yang mengajukan protes, termasuk kawan tadi, karena sebuah alasan yang telah lama kami sepakati bersama. Sebuah gerakan intelektual (sebagaimana kami menyebut gerakan kami ini) tidak membutuhkan taktik, tapi argumentasi logis maupun retoris (untuk mengakomodasi pandangan Deirdre McCloskey mengenai sifat retoris dalam argumentasi ilmu ekonomi).

Itulah kenapa kami menerima sebagai mitos hanya delapan belas dari “20 Mitos Tentang Pasar” yang dikemukakan Tom Plamer, yang muncul dalam jurnal elektronik Suara Kebebasan. Sementara proposisinya yang ke-19 kami tidak anggap mitos namun dengan catatan bahwa yang berlaku bukan reduksi melainkan mekanisme keserbamungkinan bagi ilmu ekonomi untuk memasuki ruang-ruang non-ekonomi dengan bahasa konseptualnya, proposisinya yang ke-20 sama sekali tidak kami anggap sebagai mitos.

Dalam proposisi ke-20 itu, pemikir dari think tank liberalisme klasik ATLAS Network ini, mengirimkan tamparan terhadap wawasan Rothbardian mengenai kedigdayaan pasar di hadapan negara. Terlalu berlebihan bagi Palmer bahwa pasar bisa menyelesaikan segala masalah tanpa membutuhkan negara/pemerintah.

Memang tidak, kata Rothbard, tapi jika yang kita bicarakan berada dalam kerangka alokasi segala ihwal langka, memang hanya pasar yang paling berhak sekaligus layak sekaligus tepat untuk melaksanakannya tanpa satu garispun campur tangan negara. Problem Palmer dengan gagasan ini mungkin ada dua. Pertama, dia mungkin belum mempelajari konsep “the Big Other” dari Lacan. Kedua, bersama-sama dengan Caplan dan lain-lain pengkritik mazhab Austria, dia adalah pemikir yang sadar untuk mengajukan dialog yang sehat dan bernas di lingkaran kaum libertarian sendiri.

Memperdebatkan gagasan-gagasan libertarian yang berbeda, sesuai dengan ciri polemis yang khas dari para proponen mazhab Austria (dari Mises hingga Robert Murphy) bukanlah liabilities bagi gerakan pro pasar bebas. Itu justru merupakan modal sangat berharga yang hanya dimiliki oleh kaum intelektual semata. Dan, boleh dipelajari dari kelompok seberang, Marxisme menyebar dalam cara yang sedemikian pervasif di kalangan kaum intelektual Eropa, salah satunya, berkat polemik di antara sekte-sekte berbeda dalam kalangannya sendiri.

Dan jika kaum intelektual yang paling terkemuka dari dunia Barat (seperti para revisionis Marxis macam Kautsky dan Bernstein) bisa menghabiskan waktu mereka dengan omong kosong seperti Marxisme, kenapa kita tidak bisa menghabiskan waktu dengan polemik – dalam kalangan kita sendiri – yang bermutu untuk mempertajam wawasan umat manusia mengenai pasar bebas.

Toh, sudah saya tunjukkan sejak awal bahwa ekonomi laissez-faire bukan agama – bahkan untuk diasosiasikan sebagai contoh saja bisa kacau balau. Dengan begitu, sangat mungkin bagi kita untuk mencapai “kalimatun sawa” demi terciptanya sebuah dunia yang lebih baik – meskipun MCI baru sampai pada batas menciptakan kota Manado yang lebih baik – yang artinya, bukan hanya untuk menciptakan sebentuk ilmu ekonomi yang lebih genah.

Itulah kenapa kami begitu yakin bahwa kehadiran wawasan ekonomi mazhab Austria tidak hanya relevan tapi bersifat urgen bagi Indonesia saat ini. Perjalanan gagasan keilmuan dan praktek kebijakan ekonomi pasar bebas di dunia sudah melewati masa yang cukup panjang lengkap dengan era gelap dan kesalahtafsiran, serta kesalahpahaman yang dideritanya. Cukup panjang dan berliku untuk tiba pada kita di Indonesia sebagai sebentuk wawasan yang telah teruji.

Terlebih lagi, Mises, Hayek, dan Rothbard sudah mati. Artinya sudah menjadi defunct economists yang, dengan begitu, menjadi sepenuhnya mungkin untuk sepenuhnya berfungsi bagi sejarah masa depan bangsa-bangsa, terutama bangsa kita yang tercinta. Logika defunct economists ini adalah sekedar lantunan atas tulisan John Maynard Keynes (ironi yang manis bagi seorang fans mazhab Austria) mengenai fungsi ekonom yang sudah mati. Dalam irama yang mengingatkan saya pada Hegel, Keynes mengatakan:

Practical men, who believe themselves to be quite exempt from any intelectual influence, are usually the slaves of some defunct economist. Madmen in authority, who hear voices in the air, are distilling their frenzy from some academic scribbler of a few years back. – Dikutip dari pengantar Burton G. Malkiel untuk buku Charles Wheelan, Naked Economics.

Persoalannya sekarang, Keynes juga sudah mati.

Tulisan ini pertama kali dimuat di http://suarakebebasan.org/id/dasar-libertarianisme/item/629-versi-yang-mustahak-dari-mazhab-austria

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s